Review Film The Disaster Artist

Review Film The Disaster Artist

Review Film The Disaster Artist ( 2018 )

RockAndRaaga. – sebuah karya yang bagus perlu 3 elemen: sumber daya, spirit, serta bakat. Seperti Segitiga Api, dia takkan sukses waktu ada satu saja elemen yang kurang. Film The Room yang ditulis, disutradarai, serta di bintangi Tommy Wiseau ialah apakah yang berlangsung waktu dia tidak miliki elemen paling akhir. Saya bukan melebih-lebihkan, sebab sebenarnya memang demikian. The Room didaulat menjadi salah satunya film terburuk selama hidup. Karena sangat melegendanya, sampai sekarang ini penayangan filmnya masih tetap dengan teratur diselenggarakan oleh beberapa fans, sering didatangi langsung oleh Wiseau.

Masalah prediket “terburuk”, satu film takkan jadi legenda jika sebatas jelek saja. Ada yang namanya film jelek pemancing migrain serta ada juga film yang demikian jelek sampai menontonnya jadi menghibur. Saya meyakini beberapa orang selalu membicarakannya bahkan juga sesudah 15 tahun, bukan sebab inkompetensi Wiseau belaka tetapi sebab bagaimana sikapnya yang demikian passionate pada filmnya. Wiseau yakin jika dia membuat film terunggul. Daya itu menyebar, mz.

Cukuplah masalah The Room; ini kan penjelasan The Disaster Artist. The Disaster Artist ialah pendekatan komedi yang bercerita tentang bagaimana The Room dapat eksis. Filmnya berjalan di garis tipis pada olok-olok serta animo. Bagaimana kembali coba langkah membuat film mengenai hal itu jika bukan melalui komedi. Bahkan juga film yang serius juga tentu jadi kocak waktu kita lihat kericuhan di belakang monitor yang berlangsung saat syuting The Room serta absurditas kepribadian Wiseau.

Saat tampil untuk tunjukkan potensi aktingnya di muka kelas teater, Tommy (James Franco) dengan ketertarikan berteriak “STELLA! STELLA! AAKK!” seakan tengah kesurupan. Tidak ada manusia normal yang memandang ini menjadi akting sungguhan. Akan tetapi Greg Sestero (Dave Franco, adiknya James) teracuni oleh semangat Tommy, karena dia sendiri tidak miliki kepedean sebesar itu. Bahkan juga Judi Bandar Ceme pun, Tommy tidak malu-malu melawan Greg untuk membawakan dialog drama selantang mungkin seakan tengah jadi orator demo 212.

Berbagi mimpi yang sama untuk menjadi bintang Hollywood seperti James Dean, keduanya berangkat menuju kota Los Angeles. Bermodal wajah ganteng, Greg berhasil mendapatkan agen meski tak demikian dengan kerjaan. Plus, Greg dapat pacar namanya Amber (Alison Brie). Lain cerita dengan Tommy yang bernasib naas. Ia ditolak mentah-mentah saat mendekati seorang produser.

Kalau memang Hollywood tak siap menerima kita, bagaimana kalau kita membuat film sendiri? Kira-kira begitulah usul Greg. Nah, yang menarik adalah Tommy punya sumber daya. Uangnya begitu berlimpah, sampai ia mau saja membeli kamera alih-alih menyewanya sebagaimana kebanyakan sutradara, membangun set sendiri alih-alih memakai properti di dunia nyata, dan merekrut siapapun yang mau bergabung dengan proyeknya, skrip yang kemudian kita kenal dengan nama “The Room” yang diklaim Tommy sebagai drama terdahsyat sekaliber karya Tenessee Williams.

Tommy adalah figur misterius dan film ini tak mencoba untuk memecahkannya. Di akhir film, kita masih takkan tahu dari mana sumber kekayaannya, dimana kampung halamannya (Tommy bilang New Orleans tapi logatnya mengisyaratkan bahwa ia mungkin saja berasal dari kastil drakula), atau berapa usia sebenarnya (ia mengaku 20 tahunan tapi wajahnya tak bilang begitu). Film, yang ditulis oleh Scott Neustadter & Michael H. Weber langsung dari memoir Greg Sestero, tetap memperlakukannya sebagai enigma, sebagaimana kebanyakan penggemar melihat Wiseau asli.

Film ini mengambil pendekatan yang simpel, lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi di balik produksi The Room. Bagian yang lebih menyasar insight mengenai Wiseau disederhanakan dengan konflik bagaimana Greg tetap mendukung Tommy padahal ia sadar bahwa Tommy jelas tak tahu apa yang sedang dilakukannya atau bagaimana Tommy yang selalu ngedumel setiap kali Greg bawa-bawa pacar. Tak ada yang mengerti Tommy, bahkan Greg sekalipun.

Film ini disutradarai oleh James Franco, tapi jelas ia lebih mantap sebagai aktor daripada sebagai sutradara disini. Dengan rambut panjang dan bantuan make-up, Franco benar-benar terlihat dan terdengar seperti Wiseau, termasuk logat ganjil dan tawa anehnya. Kita bisa merasakan seberapa telaten Franco mempelajari karakter aslinya. Namun ia tak sekedar melakukan olok-olok, melainkan juga menangkap semangat dan kerentanannya. Muka lempeng dan tatapan nanar Tommy memang minta dikasihani.

Proses produksi The Room ternyata memang kacau sekali dan inilah bagian dimana The Disaster Artist benar-benar lucu. Kegilaan di lokasi syuting tentu saja bersumber dari Tommy, sementara para kru, yang diantaranya diperankan Seth Rogen, Jacki Weaver, Josh Hutcherson, Zac Efron, dkk, sedari awal menyadari bahwa situasi akan semakin memburuk. Franco membuat reka ulang sekaligus memberi latar belakang yang tak banyak orang tahu soal beberapa adegan kunci dari The Room (yaa, misalnya kenapa Tommy memegang botol air mineral pas adegan “Oh, hi Mark”). Untuk memamerkan seberapa detail hasil kerjanya, di akhir film Franco memasukkan reka ulang adegan ikonik yang diletakkan bersebelahan dengan adegan aslinya.

Saya kira The Disaster Artist berhutang banyak kepada The Room dan Wiseau. Film ini takkan menjadi lucu kalau sumbernya tak lebih lucu. Menonton The Room akan membuat anda mengapresiasi The Disaster Artist, begitu pula sebaliknya. Tapi saya tak bisa bilang bahwa film ini adalah tribut buat Wiseau dan The Room. Film ditutup dengan ending yang memposisikan sang kreator dan kreasinya sebagai obyek yang yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Apa yang mereka tertawakan? Kekonyolan filmnya atau kekonyolan orang yang begitu passionate menciptakan sesuatu meski tanpa talenta?

Review Trailer The Disaster Artist

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *