Review Film Roma 

Review Film Roma 

Review Film : Roma

RockAndRaaga. – Melihat Roma, saya jadi susah sampai rasa-rasanya ingin menangis. Film ini termasuk juga ke type film yang membuat saya kasihan dengan diri pribadi. Film yang membuat saya gundah gulana. Film yang membuat saya merenung dalam. Film yang membuat saya berkontemplasi, bertafakur tentang arti kehidupan serta inti eksistensi manusia di muka bumi. Pertanyaan mengenai nasib serta takdir berseliweran di pikiran saya. Mengapa semua semacam ini? Mengapa tidak semacam itu? Apakah memang berikut takdir saya? Mengapa saya dilahirkan ke dunia? Apakah salah ibu serta bapak saya? Rasa-rasanya saya ingin lari ke pantai, serta sambil menghambat deburan ombak, saya ingin berteriak:

Inilah film yang mendapatkan pujian universal di kelompok praktisi film. Ratingnya hampir prima. Di MetaCritic, score akhir hasil dari rata-rata rating yang dikasihkan kritikus ialah “96%”. Angka yang juga sama laku pada konsensus RottenTomatoes, walau mereka memakai skema scoring yang berlainan. Dari semua ulasan, cuma satu saja Top Critics yang memberi Tomat Busuk. Rating akhir pemirsa di IMDb ialah “8,2”, menempatkannya menjadi film terunggul ke-207 selama hidup. Sesaat di tempat ini, saya justru mengerti perihal yang lainnya. Mungkin telah nasib saya jadi reviewer receh seumur hidup. Mungkin saya memang hanya patut jadi bekas opak di kaleng Khong Guan-nya dunia pereviewan film. Mungkin saya semestinya memang kembali beternak ayam saja di kampung.

Roma adalah film terbaru dari Alfonso Cuaron, sineas hebat yang merupakan sutradara Meksiko pertama yang pernah mendapat Oscar. Ia menyebut film ini sebagai filmnya yang “paling personal” sejauh ini. Mungkin personal buat Cuaron, tapi yang jelas, tak begitu buat saya. Kepiawaiannya menyutradarai terpampang dengan begitu jelas di layar, kita langsung tahu bahwa film ini pasti dibuat oleh orang yang sudah berbakat dari lahir atau barangkali sudah punya banyak pengalaman. Namun, saya tak merasakan dampak film ini sebagaimana yang (saya pikir) ia maksudkan.

Film ini merupakan film semiautobiografis dari Cuaron mengenai masa kecilnya pada tahun 70an di sebuah kota bernama Roma di Meksiko. Alih-alih berfokus pada kehidupan masa kecilnya, Cuaron memilih untuk menceritakan sisi yang belum diceritakan, mengenai orang penting yang kerap dilupakan. Ia memberi tribut kepada orang yang hampir seumur hidup tak bernama, tapi telah sangat berjasa membesarkannya.

Menarik juga menyaksikan film yang menempatkan elemen yang lebih riuh, dan biasanya lebih sinematis, di latar belakang, sementara elemen yang tidak dramatis menjadi bagian utama. Sedari awal Cuaron sudah mengisyaratkan ini lewat adegan pembuka yang simpel tapi punya impresi kuat. Kita melihat pesawat yang terbang di langit lewat pantulan genangan air di lantai. Lantai tersebut tergenang air karena sedang dipel.

Yang mengepelnya adalah Cleo (Yalitza Aparicio), satu dari dua pembantu yang bekerja bagi sebuah keluarga kelas menengah yang terdiri dari ibu Sofia (Arina de Tavira), bapak (Fernando Grediaga), dan empat anak yang masih kecil-kecil. Bersama temannya, Adela (Nancy Garcia), Cleo dengan rajin bermain QQ Online dan tanpa lelah mengurus rumah tangga, mulai dari mencuci, memasak, merawat anak-anak, sampai membersihkan lantai dari kotoran anjing yang seperti tak pernah habis-habis.

Mereka adalah pembantu yang ideal; patuh dan sangat mencintai keluarga majikan. Dan untungnya, mereka juga mendapat majikan yang lumayan pengertian. Bukan berarti keluarga ini juga ideal. Si ibu kayaknya selalu sibuk dan lalai mengurus anak, barangkali karena sedang gundah gulana mikirin suami yang punga seribu satu alasan agar bisa lama-lama tak pulang ke rumah.

Drama tersebut berada di latar belakang, sebagaimana banyak drama besar yang bakal terjadi nanti. Kita cuma diajak untuk mengamati kehidupan Cleo. Yah, sebetulnya Cleo juga punya drama sendiri sih. Lewat Adela, ia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Fermin (Jorge Antonio Guerrero). Sebagaimana diperagakannya sebelum bercinta, Fermin mahir beladiri. Fermin juga mahir melarikan diri saat Cleo memberitahu bahwa ia hamil.

Semua ini dituturkan tanpa melodrama menye-menye. Anda boleh jadi merasa tak banyak hal yang terjadi selama film berlangsung, karena Cuaron benar-benar back to basic. Untuk film ini, ia tak menggunakan score, alih-alih sound design yang tajam. Ia lebih memilih untuk memakai nama-nama yang relatif tak dikenal sebagai pemain. Kecuali pemeran si ibu, semua aktornya tak pernah bermain di layar kaca sebelumnya.

Gambarnya, yang disorot sendiri oleh Cuaron, menggunakan format hitam-putih. Kualitas sinematografinya mantap. Ada beberapa adegan hitam-putih yang sangat cantik yang meyakinkan kita berkali-kali bahwa ini adalah film yang sangat nyeni, yang dibuat oleh sutradara yang paham betul soal pengambilan gambar. Film ini juga banyak memakai sorotan panjang, seringkali secara berkeliling mencari Agen Judi Poker, dengan presisi yang terukur yang menangkap geografi dengan efektif. Menjelang film berakhir, kita merasa kita mengenal betul setiap sudut dari rumah yang diurus Cleo.

Sekilas Roma terkesan tak seheboh film Cuaron yang sudah-sudah. Namun di belakang kisah Cleo, ada latar dengan skala yang epik: kisruh politik, persoalan marital, krisis ekonomi, hingga kesenjangan sosial. Semua ini bergerak sengan senyap di belakang Cleo. Kita melihatnya sekilas di layar, lalu menghilang dalam sekejap, untuk kemudian kita diseret kembali lagi ke kehidupan Cleo. Ada dua adegan Poker Omaha  paling mengesankan. Yang pertama adalah adegan dimana ketuban Cleo pecah ketika terjadi kerusuhan di jalanan yang berakhir menjadi apa yang dikenal sebagai Tragedi Berdarah Corpus Cristi. Ada begitu banyak elemen yang bergerak secara bersamaan yang dibangun dengan detail yang luar biasa oleh Cuaron. Meski begitu, ia tak tergoda untuk memamerkannya dengan kentara.

Kemudian, adegan klimaks dimana Cleo mati-matian melawan ombak demi memperjuangkan sesuatu yang ia sadar sangat ia cintai. Ini merupakan pengejawantahan dramatis dari pengorbanan yang tulus tanpa balas jasa. Adegan ini sangat nampol, bahkan meski kita tak tahu konteksnya. Begitulah briliannya Cuaron. Namun, di lain sisi ini juga cukup disayangkan. Bagian ini seharusnya nampol bukan karena itu saja, melainkan juga karena efek dari pembangunan cerita. Ini seharunya merupakan kulminasi dari apa yang datang sebelumnya. Namun saya tak mendapatkan gregetnya dari sana.

Alfonso Cuaron sebelumnya pernah membuat film kecil yang intim lewat A Little Princess dan Y Tu Mama Tambien. Ia kemudian dengan sukses menaklukkan blockbuster dengan Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Children of Men, dan Gravity. Untuk semua itu, ia masih menjadi sutradara yang saya puja. Saya tahu atmosfer dan narasi yang lempeng memang disengaja untuk film ini. Roma digarap dengan sangat terampil, tapi saya kesulitan untuk larut di dalamnya. Saya merasa jauh dengan Cleo. Film ini lebih mudah saya apresiasi daripada saya cintai.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *