Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Kekacauan Bumi Di Masa Apocalyptic

RockAndRaaga. –  Untuk kamu yang tengah menanti film Hollywood paling baru apakah yang akan tampil di minggu pertama bulan Desember 2018 ini? Mortal Engines ialah jawabannya. Trailernya mungkin tidak memuaskan kamu. Tersebut penjelasan atau ulasan Mortal Engines dari RockAndRaaga.

Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) ialah seseorang arkeolog yang berusaha untuk berfikir maju ke depan. Bersama dengan kota raksasanya dia ingin bangun kehidupan yang lebih baik buat umat manusia di waktu sesudah “60 minute war” serta saat ini.

Dia tinggal dalam suatu kota besar London. Bukan London yang ada di belahan utara bumi. Akan tetapi, London yang dapat beralih dari satu tempat ke tempat yang lain. Benar, bumi tidak dapat ditempati. Tidak ada kembali tanah yang dapat jadikan menjadi landasan fondasi untuk bangun rumah.

Tanah-tanah yang tersisa hanya tanah yang dapat dikendarai oleh kendaraan dengan roda besar. Di dukung dengan mesin-mesin yang disebut masa lalu dari tehnologi waktu kemarin. Busi, iPhone sampai computer tablet. Apapun tehnologi yang berada di waktu lantas jadikan menjadi sumber simpatisan kehidupan.

Satu kembali, Thaddeus mesti singkirkan kota-kota kecil tiada nama yang berkeliaran di tanah bumi yang telah gersang. Keuntungannya, dia dapat ambil mesin serta tehnologi dari kota-kota kecil ini serta bangun impiannya akan kehidupan bumi yang lebih baik.

Pada satu waktu, pada saat penjelajahannya “memakan” kota-kota kecil, Thaddeus sukses membekuk satu kota kecil yang di isi oleh beberapa orang tidak berkapasitas. Akan tetapi, ada yang menunggunya disana. Dia ialah Hester Shaw (Hera Hilmar).

Seseorang gadis muda yang tetap tutup mukanya dengan masker. Tetap dapat menaruh benda-bendam rahasia dibalik bajunya. Miliki waktu lantas yang kelam serta malah di besarkan oleh makhluk aneh serta mengerikan bernama Shrike, manusia yang dirubah jadi Frankenstein di waktu Apocalyptic.

Pertemuan Hester dengan Thaddeus Valentine semestinya mengagetkan. Akan tetapi, kebalikannya, Hester dijatuhkan dengan gampang. Misinya untuk temukan Thaddeus Valentine tidak sukses.

Akan tetapi, Hester berjumpa dengan beberapa orang baru dengan tidak tersangka. Ada Tom Natsworthy (Robert Sheehan) pemuda yang tertarik dengan tiap-tiap tehnologi serta riwayat waktu kemarin. Dia juga berjumpa dengan Anna Fang (Jihae) seseorang pemberontak yang tahu benar cerita Hester di waktu kemarin.

Ditambah kembali, Anna nyatanya miliki perseteruan kebutuhan dengan Thaddeus. Sang arkeolog ingin sekali membokar rahasia Anna. Semasing orang miliki kebutuhan serta perseteruan. Akan tetapi, nyatanya mereka mempunyai satu sumber arah yang sama.

Satu benda sakral yang dulunya dipunyai oleh seseorang Arkeolog wanita bernama Pandora Shaw. Dapatkah Hester singkirkan Thaddeus? Atau Thaddeus yang terlebih dulu membuka tabir punya Anna? Apakah yang sebetulnya ingin diketemukan oleh beberapa orang ini saat bumi telah hancur luluh lantah? Dapatkan jawabannya di film Mortal Engines. Mulai tampil ini hari, 5 Desember 2018 di bioskop-bioskop CGV Cinemas, Cinemaxx, serta XXI.

Sudut Pandang Fantasi Apocalyptic

Mortal Engines memiliki cerita dengan latar belakang masa-masa apocalyptic. Mungkin selama ini kamu sudah menonton beberapa film dengan latar yang sama. Sebut saja Mad Max: Fury Road atau A Quiet Place jadi film dengan tema kehancuran bumi. Mortal Engines pun hadir dengan latar cerita yang sama.

Namun, yang membedakannya adalah, Mortal Engines punya kekuatan dalam menampilkan fantasi-fantasi liarnya. Apalagi film ini diadaptasi dari novel karya Philip Reeve yang disebut mampu membagi cerita-ceritanya dengan rapi, mengejutkan dengan konflik dan bagaimana ia menuangkan fantasinya dalam sekumpulan tulisan.

Namun, semua tulisan Philip Reeve ini ternyata mampu ditransformasi dengan cukup baik oleh Christian Rivers. Ditambah lagi untuk penulis naskah dan produse film ini ada nama Peter Jackson. Orang yang sukses membangun sebuah fantasi penonton dengan film-film seperti trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit atau The Adventures of Tintin. Hal ini yang juga diadaptasi dengan baik di sepanjang film.

Penonton akan dimanjakan dengan gambaran bagaimana sebuah kota bergerak dengan kekuatan mesin dan roda-roda besar. Fantasi tentang hancurnya bumi hingga pakaian dan budaya yang terjadi setelah kehidupan manusia tidak lagi teratur disajikan dengan cukup baik.

Belum cukup sampai di situ, penonton akan dimanjakan dengan fantasi bagaimana pesawat tempur dimodifikasi sedemikian rupa dimasa apocalyptic. Satu hal yang mungkin tidak akan terbayangkan di pikiran penonton. Film ini juga mengajak penonton untuk berfantasi bagaimana seandainya perangkat gawai seperti super komputer atau iPhone tidak lagi ada gunanya.

Bukan spoiler, namun film ini sedikit memberikan visualisasi satirnya memperlihatkan bagaimana perangkat gawai ini jadi benda usang di museum London. Artinya, jika benda-benda yang kita pegang sekarang ini menjadi tidak berarti jika perang memang benar-benar terjadi. Apalagi, jika perang tersebut membawa kehancuran bagi bumi.  Lalu, bagiamana dengan jalan cerita film Mortal Engines sendiri?

Jalan Cerita Mortal Engines

Tidak seperti film yang diadaptasi dari novel lainnya, Mortal Engines sedikit lebih baik. Penyampaian ceritanya tidak terburu-buru atau asal jadi. Secara tepat film ini mampu menggambarkan setiap momen-momen penting dari karakter-karakter utama film. Bahkan bisa dikatakan penyampaian cerita melalui buku, mampu dirangkum dengan tepat melalui filmnya.

Bahkan ketika film ini menyajikan cerita dengan alur maju-mundur, Mortal Engines masih bisa memberikan kepuasan kepada penontonnya. Menunggu kejutan-kejutan yang sudah disiapkan dari pertengahan hingga akhir film. Ada beberapa twist yang ditampilkan, sayangnya tidak menampilkan adegan permainan Qiu Qiu Online dan dimaksimalkan dengan baik oleh para pemerannya.

Meskipun Hera Hilmar yang berperan sebagai Hester Shaw jadi pionir di dalam film ini, namun ia terlihat tampil biasa saja. Hanya Hugo Weaving yang sudah dikenal sebagai pemeran antagonis di trilogi Matrix atau Red Skull di film Captain America: The First Avenger yang tampil dengan baik di film ini.

Masih ada nama Jihae yang berperan sebagai Anna Fang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun, kesempatan wanita dari Korea Selatan ini tidak terlalu besar di sepanjang film. Sisanya, terlalu banyak karakter yang dimunculkan membuat beberapa plot film menjadi terasa tidak nyaman untuk ditonton.

Satu lagi, film ini akan sangat kental dengan aksen British. Hampir setiap dialognya tampil “gagah” dan terkesan “arogan” seperti halnya aksen orang-orang Inggris lainnya. Secara keseluruhan, Mortal Engines mampu menawarkan satu perspektif yang berbeda tentang kehidupan di masa depan. Peter Jackson dan seluruh tim kreatif yang dibalik layar kompak memainkan fantasi penonton dengan gaya kehidupan manusia di masa kehancuran bumi.

Review Trailer Mortal Engines

 

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *