Review Film Den of Thieves ( 2018 )

Den of Thieves ( 2018 )

Review Film Den of Thieves ( 2018 )

RockAndRaaga. – Den of Thieves dibuka dengan statistik yang mencengangkan: di Los Angeles, perampokan bank berlangsung tiap-tiap 48 menit. Artinya, belumlah selesai satu episode satu bank sudah dirampok di Los Angeles. Ini membuat kota itu dijuluki pusat perampokan bank di seluruh dunia. Kita lalu dibawa untuk lihat satu sekuens perampokan yang digarap dengan begitu bagus, saya sampai tidak mengerti jika yang dirampok bukan bank, tetapi truk yang tengah nongkrong di warung donat. Nah lho. Kurang lebih berapakah angka perampokan warung donat tiap-tiap satu episode

Menyaksikan sekuens ini, kami menduga jika kami akan melihat satu film heist-thriller yang akan mengagetkan kami karena kami tidak menduga akan melihat film yang bagus. Tembak-tembakannya meyakinkan, camera berjalan dengan enerjik, disertai musik latar synthesizer yang dibuat untuk bikin kita berdebar-debar. Nyatanya filmnya tidak bagus-bagus sangat, tetapi masih membuat saya cukup terperanjat sebab dia lebih baik dari yang saya duga. Plot twist-nya bisa juga.

Dari tehnik mereka merampok, jelas beberapa kriminil bertopeng ini adalah profesional yang kemungkinan sempat ikut serta dalam operasi militer. Pemimpinnya ialah Merrimen (Pablo Screiber), eks marinir yang banting setir jadi perampok. Beberapa kru salah satunya Bosco (Evan Jones), Levi (50 Cent), serta Donnie (O’Shea Jackson Jr.). Banyak korban berjatuhan, tetapi yang mereka temukan hanya truk kosong punya bank.

Kita berhadapan sama ‘hewan’ yang tak biasa, bro,” ujar Nick (Gerard Butler) kepada rekan-rekannya, anggota kepolisian Los Angeles, sembari mengunyah donat yang dipungutnya dari TKP. Iya, yang tergeletak di parkiran. Unit yang dipimpin Nick adalah unit khusus yang krunya sepertinya dipersyaratkan punya tato, bertingkah slenge’an, dan berani menghajar calon tersangka. Tanpa pengawasan pula. Mereka adalah preman berseragam, meski lebih sering tak berseragam saat bertugas. Uhm, anda tahu maksud saya.

Jeniusnya, dari kondisi TKP, Nick bisa langsung menyimpulkan bahwa pelakunya adalah kru Merrimen. Yang patut diketahui adalah Nick kenal dengan Merrimen dan Merrimen kenal dengan Nick. Mereka agaknya merupakan rival di masa lalu, dan karena profesi yang saling bertolak belakang, jadi musuhan di masa sekarang. Nick tahu apa yang sudah dilakukan Merrimen, tapi tak bisa menangkapnya karena sadar bahwa ia tak punya bukti kuat.

Atau begitulah alasan agar filmnya bisa dilama-lamakan menjadi hampir dua setengah jam. Dua-setengah-jam. Film rampok-rampokan mana pula yang sepanjang itu kalau bukan film Michael Mann? Khususnya yang berjudul Heat? Namun film ini bukan buatan Mann, melainkan sutradara debutan Christian Gudegast. Meski demikian, Gudegast jelas mengacu kepada Heat, bukan sekedar gaya sinematisnya, bahkan hingga garis besar plot dan dinamika karakter.

Butler dan Schreiber dibuat mirip dengan Al Pacino dan Robert De Niro-nya Heat, yang di permukaan memang musuhan, tapi sebenarnya intim. Bedanya, Nick dan Merrimen ini merasa lebih macho dan bersaing untuk memparadekan kemachoan mereka. Ada adegan yang menarik di pertengahan film; Nick dan Merrimen saling unjuk kebolehan mereka di arena tembak. Tanpa berkata-kata, Nick kemudian sepertinya terkagum dengan akurasi Merrimen. Jangan pikirkan soal plausibilitas adegan, karena nanti kita akan disuguhkan dengan Nick yang terbangun di hadapan Merrimen setelah malamnya “main” dengan seorang pekerja seks komersil setelah slesai bermain Domino Qiu disebuah Bar Casino Los Angeles .

Namun ini tidak berhasil karena tak punya kedalaman. Keduanya adalah karakter satu dimensi. Adegan puncak, dimana keduanya harus tembak-tembakan secara personal, terkesan canggung. Dramanya simply tidak bekerja. Usaha untuk menjadikan mereka personal, seperti Nick yang diceritakan dalam proses cerai dengan sang istri, terasa tidak pada tempatnya karena tak nyambung dengan bagian rampok-rampokan panjang yang menyusul setelahnya.

Rampok-rampokannya menjadi tidak simpel karena melibatkan main kucing-kucingan. Nick menyekap Donnie yang merupakan sopirnya Merrimen, lalu menginterogasinya. Tak banyak yang bisa ia dapatkan, jadi Nick melepaskan Donnie untuk menjadi informan, selagi menunggu pergerakan selanjutnya dari Merrimen. Rencana besar Merrimen adalah merampok bank Federal Reserve. Merampok bank biasa berisiko karena setiap uang punya nomor seri yang bisa dilacak. Nah, merampok bank Federal Reserve lebih aman, karena di setiap periode tertentu, bank ini akan menghapus nomor seri sebelum uang yang cacat dimusnahkan. Target mereka adalah mengambil uang tersebut tepat setelah nomor serinya dihapus tapi sebelum dimusnahkan. Bro, rencana mereka sungguh matang.

Kendati ini adalah pertama kalinya bagi Gudegast mengontrol langsung di belakang kamera, ia percaya diri ketika menggarap adegan aksi. Sekuens aksinya menegangkan, enerjik, dan berisik. Ia tahu cara menggerakkan dan menempatkan kamera terutama saat adegan puncak yang melibatkan tembak-tembakan di jalan raya yang macet.

Saya pikir film ini berisi terlalu banyak hal. Durasi 140 menitan jelas kepanjangan dan filmnya terseok gara-gara bagian pertengahan yang draggyDen of Thieves agaknya bisa menjadi film yang lebih mencekat seandainya dibuat lebih padat. Namun, film ini membuat saya setuju dengan pernyataan bahwa tak ada film yang buruk saat film itu bisa membuat Gerard Butler terlihat bermain baik. Ia lumayan bagus disini, sebagian besar karena ia tak perlu menampilkan sesuatu kecuali kemachoan

Review Film Bleach ( 2018 )

Review Film Bleach ( 2018 )

RockAndRaaga. – Mendengar adaptasi shonen yang ditangani dengan benar, sebagian anda mungkin langsung menyodorkan live-action Rurouni Kenshin alias Samurai X. Iya, film itu (terpenting yang pertama) masih adalah penyesuaian shonen terunggul selama ini. Akan tetapi dia unggul sebab handicap; komponen Rurouni Kenshin lebih dekat dengan dunia riil, sesaat Bleach begitu fantasi. Dia mengulas tentang monster bernama Hollow, pasukan penghilang Hollow berjuluk Shinigami, semesta fiktif bernama Soul Society, serta pedang super bernama Zanpakuto. Yaah, beberapa hal WTF standard manga/anime laah.

Jadi adalah satu perolehan waktu sutradara Shinsuke Sato dapat membuat semua komponen itu kerja. Sato tahu apakah yang tengah dia kerjakan, mungkin karena pengalamannya yang sebelumnya telah 4 kali mengusung manga ke live-action, dari mulai The Princess Blade, I am Hero, sampai yang sangat nyeleneh, Gantz serta Inuyashiki. Menjadi orang kurang pergaulan yang membaca semua manga Bleach, saya dapat mengkonfirmasi jika tidak ada komponen ciri khas Bleach yang dibiarkan di film live-action ini.

Adegan aksinya relatif setia dengan versi manga/anime. Yap, bahkan sabetan pedang yang gesit dan gerakan tubuh yang cepat sebagaimana lazimnya efek spesial di manga/anime shonen terlihat cukup meyakinkan. Shinsuke Sato dengan bijak menggunakan permainan kamera dan pemilihan angle untuk menutupi efek komputer yang memang belum semewah Hollywood, tapi tetap sukses menghadirkan intensitas pertarungan ala anime.

Secara teori, memang pada dasarnya manga/anime itu terbilang hampir mustahil untuk diadaptasi, khususnya karena fitrahnya yang episodik. Anda tahu, manga Bleach berjumlah 74 volume, sedangkan animenya mencapai 366 episode. Gimana bisa muat tuh semua dalam satu film? Untungnya film ini tak berusaha memasukkan sebanyak mungkin elemen, alih-alih justru menyederhanakan cerita dengan memilih satu tema utama. Ia berfokus pada perjalanan dari karakter utama kita, Ichigo Kurosaki (Sota Fukushi) untuk menjadi seorang Shinigami. Bagi yang belum tahu Shinigami, please bear with me here. Ini mau saya jelasin.

Ichigo adalah seorang anak SMA berandal biasa yang menjalani hidup yang relatif biasa saja bersama ayah dan dua adiknya. Namun ia punya kelebihan, yaitu bisa melihat arwah. Kelebihan ini naasnya malah berujung pada kematian sang ibu saat Ichigo masih kecil dulu, sesuatu yang masih menjadi penyesalan bagi Ichigo hingga saat ini. Suatu hari, Ichigo tiba-tiba melihat seorang samurai berbaju hitam yang sedang bertarung melawan monster raksasa. Samurai tersebut adalah Shinigami bernama Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki), sedangkan si monster disebut dengan Hollow. Tugas Shinigami adalah membimbing Hollow yang sebetulnya adalah arwah manusia yang masih mendendam agar menyeberang ke dunia arwah dan tak mengganggu dunia manusia lagi. Caranya, yaa tentu saja memutilasi mereka dengan pedang dong biar seru.

Namun satu dan lain hal membuat Rukia kehilangan kekuatannya di tengah pertempuran. Satu-satunya solusi adalah dengan mentransfer kekuatannya kepada Ichigo. Ichigo awalnya ragu, tapi toh mau juga ntar, dan sekarang ia jadi punya pedang raksasa. Masalahnya, Rukia sekarang bukan lagi seorang Shinigami sehingga tak bisa kembali ke kampungnya di Soul Society. Jadi, Rukia memilih untuk tinggal di dunia manusia demi melatih Ichigo menjadi Shinigami sungguhan.

Mitologi Bleach menjadi kian kompleks, karena nanti bakal ada beberapa Shinigami lain yang datang untuk menjemput Rukia, serta kehadiran klan saingan Shinigami yang berjuluk Quincy. Namun penonton kasual agaknya tak perlu khawatir, sebab mekanisme semesta Bleach dijelaskan dengan simpel disini. Biasanya, ada sensasi ganjil yang kerap kita dapatkan saat menonton adaptasi live-action dari sebuah anime, yaitu sensasi keterasingan konsep dari dunia nyata; mari kita sebut “anime-jetlag”. Namun, film Bleach sedikit meredam “anime-jetlag” ini bagi penonton; tak ada lelucon fisik khas anime, tak ada teriakan power-up lebay khas anime, bahkan karakterisasinya dibuat lebih dekat dengan dunia nyata (rambut Ichigo tak se-oranye anime; turut berduka buat Orihime-lovers *uhuk*). Saya cukup yakin ini berkat keterlibatan langsung sang kreator BleachTite Kubo yang terjun langsung dalam proses produksi.

Kalau memang begitu, saya harap nanti semua adaptasi anime/manga mau untuk menggandeng kreator orisinalnya. Mereka tentu lebih tahu aspek mana yang bakal bekerja untuk film mereka, dengan harapan penonton akan mendapatkan adaptasi yang layak. Bleach menjadi sedikit live-action yang saya nantikan kelanjutannya, meski film ini sebetulnya ditutup dengan baik dan tak berusaha keras mengisyaratkan sekuel. Ia juga membuat saya percaya bahwa mengadaptasi shonen fantasi bukannya tidak mungkin dilakukan. Barangkali live-action Naruto bukanlah ide yang buruk.

Review Film Overlord ( 2018 )

Review Film Overlord ( 2018 )

Review Film Overlord ( 2018 )

RockAndRaaga. – Sebagai film kelas B, Overlord punya penampakan yang semakin bagus dibanding yang kita duga. Adegan pembukanya luar biasa efisien. dapat saya katakan bahwa ini adalah adegan pembuka sangat fantastis yang sempat saya lihat untuk ukuran film-film di kelasnya. Adegan ini menunjukkan pesawat pengangkut tentara yang diberondong senjata api, tepat sebelum beberapa tentara tersebut terjun payung. Kita tidak melihat langsung agresi musuh, tetapi kita menyaksikan kilatan peluru yang tembus tubuh pesawat dan, tubuh beberapa tentara. Camera fokus pada kepanikan beberapa tentara. Mungkin ini ditujukan untuk menghemat bujet, alih-alih menampilkan medan perang sungguhan yang tentu perlu banyak dampak istimewa. Akan tetapi ini pula mengeskalasi ketegangan serta urgensi adegan.

Lagi-lagi dapat di buktikan jika J.J. Abrams dapat membuat apa pun yang diproduserinya tampak tambah mahal dibanding aslinya. Fokus lalu berubah pada satu tentara, yakni prajurit Boyce (Jovan Adepo). Dia terjun payung dengan gelagapan untuk lalu mendarat tidak sempurna di air. Dia masih tetap hidup, tetapi saat ini ada di rimba yang lebat. Mayat-mayat bergantung di pohon, sesaat nada peluru terdengar samar dari kejauhan. Situasi rimba yang mencekam terlihat begitu sesuai kenyataan. Sinematografi serta design nada betul-betul berjalan optimal untuk tangkap ketegangan tentara yang terjerat di teritori musuh yang misterius.

Waktu itu adalah D-Day dalam Perang Dunia II, detik-detik bersejarah tepat saat tentara Sekutu akan memukul balik tentara Jerman dari pantai Normandy Prancis. Misi ini sendiri, kata Google, bernama “Operation Overlord”. Tim Boyce adalah tim pembuka yang ditugaskan untuk menghancurkan menara pengacau sinyal di sebuah gereja di dekat pantai. Tanpa menara tersebut, pesawat Sekutu bisa dengan aman memberikan bantuan udara untuk para infantri yang nanti menyerbu dari darat dan laut.

Kita semua sudah tahu bagaimana misi ini akan berakhir (makasih atas spoiler-nya Buku Sejarah SD). Namun film Overlord menawarkan kisah alternatif—eh, atau jangan-jangan memang aslinya begini? Tim Boyce yang sekarang cuma tinggal 3 orang kemudian diambil-alih oleh satu-satunya staf yang tersisa, Kopral Ford (Wyatt Russell). Musuh ada puluhan, tapi mereka tak punya pilihan selain menunaikan misi. Meski begitu, mereka yakin ini bukan misi yang mustahil… yah setidaknya sampai mereka menemukan bahwa apa yang dilakukan para Nazi di dalam gereja tersebut jauh lebih keji daripada bayangan mereka.

Semua ini sangat atmosferik, sehingga saya sampai yakin untuk menyiapkan rating minimal 3,5. Bagaimana kamera bergerak, pilihan sorotan gambar, dan iringan musik latar yang mendebarkan, membuatnya punya kadar suspense yang tinggi. Saya percaya film ini akan membawa saya ke tempat misterius yang tak saya duga. Namun, saat kemudian tentara kita berjumpa dan kemudian bersembunyi di rumah seorang penduduk lokal bernama Chloe (Mathilde Ollivier), film ini tenggelam ke dalam klise yang membosankan. Saya takkan mengungkapnya kepada anda. Anda pasti sudah tahu; selain karena predictable (“Bibi saya sakit keras,” ujar Chloe), juga karena apa yang mereka lakukan tersebut merupakan rumor eksperimen Nazi paling tenar sepanjang masa.

Yang jelas, apa yang saya dapatkan tak segila yang saya kira. Film ini berada di posisi yang canggung. Di satu titik, ia seperti ingin jadi film serius yang menekel isu perang seperti standar moral dan casualties of war. Tapi ide ini berakhir separuh matang. Konflik moral antara Boyce dan … bukannya menambah dimensi, justru membuat mereka jadi kelihatan dungu ditinjau dari logika cerita. Karakter membuat pilihan narasi atau muncul di suatu tempat, murni karena skrip butuh itu meskipun ramashook secara naratif. Belum lagi tambahan villain komikal dalam wujud Pilou Asbaek. Di lain sisi, Overlord juga terkesan nanggung untuk menyajikan kegilaan horor yang total. Tentu, ada sedikit gambar-gambar mengerikan yang disajikan dengan efektif oleh sutradara Julius Avery, sampai beberapa diantaranya harus disensor oleh bioskop kita. Namun, setiapkali bergerak mendekati kegilaan horor yang paripurna, Overlord malah memilih untuk menyajikan yang boring.

Ada film yang bertujuan untuk mengejutkan kita, dan ada pula film yang bertujuan untuk membawa kita ke jalan yang familiar lewat cara yang seru atau menghibur. Melihat konsepnya, Overlord agaknya lebih cocok masuk di kategori pertama. Jauh sebelum dirilis, rumor menyebutkan bahwa film ini merupakan proyek rahasia dari franchise Cloverfield. Setelah menontonnya, saya bisa memastikan bahwa film ini tak ada hubungannya dengan Cloverfield. Koneksi gampangan ke film lain bukanlah favorit saya, jadi saya tak percaya saya sampai bisa bilang ini: Overlord barangkali bakal lebih greget kalau punya hubungan dengan Cloverfield

Demikian Sedikit Ulasan Tentang Overlord yang di Garap langsung oleh J.J. Abrams. Dengan memberikan hasil yang sangat memuaskan. Genre apa lagi yang akan di garap oleh J.J. Abrams untuk film selanjutnya apakah J.J. Abrams akan menggarap sebuah Film yang bergenre Sebuah Permainan Qiu Qiu di sebuah Casino. Mari kita sama-sama menunggu kejutan dari seorang J.J. Abrams.

Review Film Ralph The Breaks The Internet

Review Film Ralph The Breaks The Internet ( 2018 )

Review Film Ralph The Breaks The Internet ( 2018 )

RockAndRaaga. – Ini adalah pertama kalinya bagi Ralph datang ke yang namanya internet. Serta sungguh mantap sekali, Ralph Breaks the Internet ikut membuat kita terasa seperti berteman lagi dengan semesta virtual yang luas tanpa batas itu, di mana semua serba ada serta selalu ada hal baru di setiap sudut. Film ini dapat merubah suatu yang tidak penting-penting amat jadi suatu yang imajinatif. Beberapa hal rutin soal internet dirubah jadi petualangan yang sengit. Kita seakan terasanya pertama kali berkunjung ke internet.

Film ini ternyata lebih baik daripada yang saya perkirakan. Menonton film pertamanya, Wreck-It Ralph, saya tahu film ini akan kembali menggunakan amunisi utama berupa merek dan karakter dari properti lain yang didandani dengan animasi kekinian yang mentereng ditambah sedikit lelucon berupa permainan referensi. Hmm, pasti Ralph bakal ketemu sama sosok fisik dari Google, Facebook, Twitter, dkk, kan? Namun rupanya ia tak seremeh itu. Pembuatnya, Rich Moore yang kembali berkolaborasi dengan Phil Johnston setelah Zootopia yang subsversif itu, ternyata berani untuk mengeksplorasi lebih banyak, hingga mampu menghadirkan film animasi yang menghibur sekaligus cerdas. Film ini adalah sekuel yang haqiqi, punya cerita baru yang layak untuk diceritakan.

Sebagaimana yang kita tahu di akhir film pertamanya, Ralph (John C. Reilly) sudah berdamai dengan takdirnya sebagai villain bagi Fix-It Felix. Yang lebih penting, ia sekarang sudah punya sobat karib, Vanellope (Sarah Silverman), pembalap imut dari game Sugar Rush. Ralph senang dengan rutinitasnya bekerja di game dingdong di siang hari dan nongkrong di game lain bersama Vanellope di malam hari. Namun Vanellope haus akan petualangan baru.

Perjalanan Baru Ralph Breaks The Internet

Sebuah tragedi merubah semuanya: setir di dingdong Sugar Rush patah. Dan karena ini adalah era milenial, tentu saja dingdong Sugar Rush tak lagi diproduksi, boro-boro sparepart macam setir. Satu-satunya tempat untuk mendapatkannya adalah di sesuatu yang bernama “eBay”. eBay ini ada di “internet”, sesuatu yang juga baru pertama kali mereka dengar. Tak ada waktu untuk ragu-ragu, mari Ralph dan Vanellope, kita berangkat menuju internet!

Pengejawantahan internet disini sungguh merupakan santapan visual yang ciamik. Animasinya sangat bagus, penuh dengan detail yang asyik untuk dicermati. Internet digambarkan sebagai sebuah kota futuristik yang disesaki dengan gedung pencakar langit dan baliho. Manusia diwakili lewat avatar kaku mini yang sibuk bergerak kesana-kemari dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Mesin pencarian digambarkan seperti petugas pustaka yang serba tahu. eBay merupakan area lelang berukuran masif. Spam diperlihatkan seperti teman kita yang suka memepet terus buat memprospek MLM. Dan, P***Hub… tentu saja gak ada. Anda kira ini film apa.

Sebagaimana internet sungguhan, ada begitu banyak hal yang berseliweran di saat bersamaan. Namun kompleksitas ini bisa dibuat untuk gampang dimengerti. Atau mungkin karena kitanya saja yang memang sudah familiar dengan mekanisme internet. Yang lebih penting, itu semua bukan sekadar aksesoris belaka, melainkan juga terintegrasi dengan cerita. Untuk bisa membeli setir di eBay, Ralph dan Vanellope butuh uang. Dan ini mengantarkan mereka untuk bertemu dengan tukang jualan pop-up JP Spamley (Bill Hader) dan gembong aplikasi video streaming penghamba viral Yesss (Taraji P. Henson).

Misi mereka sangat simpel: cari duit, bayar setir, lalu pulang ke rumah. Namun tentu saja semua tak berjalan lancar. Film ini tak hanya soal petualangan di internet, melainkan juga soal hubungan antara kedua karakter utama kita. Film ini menemukan sudut baru untuk menggali dinamika persahabatan mereka. Tak seperti Ralph, internet menjanjikan petualangan baru bagi Vanellope, terlebih dengan sambutan hangat dari Shank (Gal Gadot), ketua tim dari game balap sadis berjudul Slaughter Race yang membuatnya bisa memamerkan skill menyetirnya yang dahsyat.

Anda tentu sudah tahu bahwa film ini adalah produk yang jaman now banget, memanfaatkan momentum dari budaya internet masa kini. Referensi mengenai berbagai macam entitas internet seperti Snapchat, Pinterest, Youtube, dll, akan menjadi nostalgia dalam lima tahun, dan barangkali jadi basi 10 tahun nanti. Namun paling tidak, film ini mengeksploitasinya dengan cerdik lewat satire ringan nan tajam. Ia menyentil semua budaya internet kita, mulai dari kebodohan yang gampang jadi viral, spamming, sampai cyberbullying.

Demikian pula dengan situasi industri Hollywood dimana Disney memonopoli banyak properti. Mereka menertawakan diri sendiri disini. Di pertengahan film, karakter utama kita akan berjumpa dengan semua, saya ulang, semua princess Disney yang sedang hangout. Kenapa mereka ada disana? Apa relevansinya buat cerita? Saya tak begitu tahu. Tapi dengan begitu, kita bisa melihat mereka menyindir sendiri soal klise karakterisasi mereka, seperti kebiasaan mereka yang sekonyong-konyong suka menyanyi atau soal hidup mereka yang biasanya diselamatkan oleh “pria besar yang kuat”. Film ini memanfaatkan nostalgia untuk ngelawak.

 

Review Film Ralph The Breaks The Internet ( 2018 )

 

Review Film Suzanna Bernafas Dalam Kubur

Review Film Suzanna Bernafas Dalam Kubur

Review Film Suzanna Bernafas Dalam Kubur

RockandRaaga. – Suzzanna Martha Frederika van Osch, soosk yg satu ini diketahui jadi satu diantaranya selebriti yg akrab dengan film-film horor Indonesia di saat saat kemarin. Satu diantaranya yg membuat sangatlah diketahui merupakan sebab kebolehannya mendatangkan teror di film Suzzanna Bernafas dalam Lumpur pada tahun 1970 Beranak dalam Pendam pada tahun 1971, sampai Sundel Bolong pada tahun 1981.

Ciri-khas yg kuat dari Suzzanna merupakan deskripsi cirinya yg sangatlah kuat. Dia nampak dingin, diam, cuma keluarkan dua sampai lima patah kata. Akan tetapi, figur parasnya yg pucat pasi jadi kengerian yg tdk dapat terelakkan.

Kembali kenang figurnya yg legendaris, cerita Suzzanna bakal di ceritakan kembali di thaun 2018. Satu film berjudul Suzzanna: Bernapas dalam Pendam “dihidupkan” kembali. Memang, tidak lagi ada figur Suzzanna Martha Frederika van Osch, akan tetapi kesempatan ini Luna Maya bakal menukar andil serta pembawaan seseorang Suzanna.

Sinopsis Suzanna: Bernapas Dalam Kubur

Tidak ada yang istimewa dari hubungan rumah tanggal Suzzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali). Sudah lama menikah, namun keduanya belum juga dikarunia momongan. Namaun, ada yang membuat suasana keluarga ini sangat positif. Mereka sangat sabar , memiliki pikiran yang postif dalam menunggu kehadiran si buah hati.

Selain itu Satria juga dikenal sangat taat dengan agamanya. Ia rajin beribadah serta membimbing istrinya untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Harmoni keluarga Suzanna dan Satria terusik ketika sedang ada persaingan bisnis usaha perjudian Domino Qiu Qiu dan empat lain karyawan merencanakan hal jahat pada keluarga Satria.Mereka adalah Jonal, Umar, Dudun, dan Gino. Empat orang ini kemudian berencana melakukan hal jahat kepada Satria. Mereka berempat ingin menghancurkan hidup Satria yang sedang bahagia bersama istrinya.

Niat empat orang yang akan merampok rumah Satria dan Suzzanna mendadak berganti pada hal yang leibh besar. Mereka terpaksa menghabisi nyawa Suzanna. Tewas seketika, Suzzanna ternyata menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, bahkan oleh suaminya sendiri.

Apalagi ada mitos-mitos dimana seorang wanita hamil yang dibunuh sebenarnya menanggung dua kehidupan yang bisa memaksa manusia tersebut harus kembali ke kehidupan manusia. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Suzzanna? Kenapa ia begitu tidak nyaman dengan ayat-ayat suci Al Quran?

Benarkah Suzzanna sebenarnya sedang mengandung bayi kecil yang didamba-dambakannya bersama Satria selama ini? Benarkah seseorang yang sudha mati bisa hidup kembali hanya untuk menuntaskan dendam yang pernah terjadi? Semuanya akan kamu temukan di film Suzanna: Bernapas Dalam Kubur

Tayang di Bioskop

Film Suzanna: Bernapas Dalam Kubur direncanakan tayang di bioskop pada tanggal 15 November 2018. Buat kamu yang penasaran dengan cerita Suzzanna, cek terus infromasi penayangan dan jadwal pembelian tiket bioskopnya di situs atua yang tersedia gratis bagi pengguna Android dan iOS.

Review Judul Dan Tanggal Liris Deadpool

Review Judul Dan Tanggal Liris Deadpool

Review Judul Dan Tanggal Liris Deadpool

Review Judul Dan Tanggal Liris Deadpool Versi Natal

Rock And Raaga. – Ketentuan Fox buat meluncurkan kembali Deadpool 2 di peristiwa berlibur Natal 2018 dengan rating PG-13 kerapkali memetik komentar negatif. Akan tetapi di lain bidang, langkah studio ikut dipuji sebab mereka memberikan peluang buat pemirsa dibawah usia buat nikmati perbuatan hebat serta kocak dari sang antihero popular Marvel, tak perlu terkena content dewasa Deadpool yang pasti tidak patut dikonsumsi anak-anak. Saat ini selesai demikian lama jadi misteri, judul serta tanggal launching sah Deadpool 2 vs PG-13 lantas selanjutnya tersingkap atas laporan terkini Deadline.

Berdasarkan informasi yang dirilis, rilis ulang ini akan bertajuk Once Upon a Deadpool dan siap dirilis pada 12 Desember 2018. Mengenai tujuan di balik perilisan Deadpool 2 berating PG-13, agar penonton anak-anak yang sebelumnya tak bisa menonton versi aslinya yang berating R dan tayang musim panas ini, bisa menyaksikan Once Upon a Deadpool yang hadir bertepatan dengan waktu liburan akhir tahun nanti. Disamping itu, Ryan Reynolds juga mengakui, pihaknya akan mendonasikan $1 dari setiap hasil penjualan tiket nonton untuk kaum penderita kanker. Adapun film yang masih dibintangi Reynolds sebagai Deadpool ini akan tayang sampai Christmas Eve, atau sehari sebelum Natal. Selain Amerika, belum dikonfirmasi apakah Once Upon a Deadpool juga akan tayang di negara lain.

Lebih detail lagi, sebagian besar adegan di Once Upon a Deadpool kabarnya diambil dari Deadpool 2, namun kontennya diperhalus agar bisa lepas dari rating R yang diusung versi aslinya. Selain itu, Once Upon a Deadpool juga punya adegan baru dengan total durasi15 menit, yang menggunakan naskah buatan Reynolds serta duo penulis Rhett Reese dan Paul Wernick. Proses syuting untuk adegan baru ini pun kabarnya hanya memakan waktu satu hari saja, dan melibatkan kru film dalam jumlah yang kecil. Meski belum diketahui cerita maupun pemain yang akan hadir di adegan baru selain Reynolds, aktor Fred Savage santer dirumorkan akan ikut bermain.

FYI, Fox sebenarnya menginginkan Deadpool PG-13 sejak lama, tepatnya sejak 2006 silam. Namun permintaan ini terus ditolak Reynolds, hingga akhirnya ia mengajukan dua syarat untuk memenuhi tuntutan studio. “Saya terus menolak (Deadpool PG-13) sejak 2006. Sekarang inilah saatnya untuk mewujudkan hal itu. Saya setuju dengan dua syarat. Pertama, sebagian dari pendapatan film akan disumbangkan untuk kegiatan amal. Kedua, saya ingin (Deadpool) menculik Fred Savage di filmnya nanti. Syarat kedua butuh penjelasan lebih agar bisa diterima,”tutur Reynolds.

Jadwal Tayang

  • Once Upon a Deadpool : Diliris Pada 12 Desember 2018

Review Film Godzilla Vs Kong Terungkap

Review Film Godzilla Vs Kong Terungkap

Review Film Godzilla Vs Kong Terungkap

Review Film Sipnosis Godzilla Vs Kong Terungkap

Rock And Raaga. – Saat mengakhiri proses penelusuran pemain, Godzilla Versus. Kong pada akhirnya masuk step produksi. Dibawah instruksi sutradara Adam Wingard (Death Catatan), Godzilla Versus. Kong didapati jadi film ke empat sekaligus juga klimaks dalam MonsterVerse, sesudah Godzilla (2014), Kong: Skull Island (2017) serta Godzilla: King of the Monsters (2019). Serta sebagai sorotan, film ini siap mendatangkan duel epik pada dua monster legendaris, sesudah akhir kali mereka disandingkan tahun 1962 lewat film King Kong versus. Godzilla.

Proses syuting Godzilla Versus. Kong juga ikut menguak misteri narasi yg diusung filmnya. Mencuplik sinopsis yg dikutip Godzilla-Movies.com, sehabis memahami eksistensi monster, umat manusia berusaha untuk merapikan nasib mereka di hari depan, serta soal ini lantas selesai mengundang pertempuran dahsyat pada dua makhluk terkuat pada dunia, Godzilla serta Kong. Bersamaan organisasi Monarch menjalankan misi beresiko dengan mendatangi tempat misterius untuk mendapatkan wejangan mengenai asal-muasal banyak monster, muncul konspirasi yg didalangi manusia yg punya potensi menghilangkan banyak monster dari muka Bumi, terputus banyak monster ini beresiko ataukah tidak. FYI, Monarch awal mulanya sudah sempat ikut serta di tiga film terdahulu, serta hadirnya diposisikan menjadi penghubung pada film-film MonsterVerse.

Godzilla Versus. Kong di bintangi Alexander Skarsgard (The Legend of Tarzan), Julian Dennison (Deadpool 2), Rebecca Hall (Iron Man 3)), Eiza Gonzalez (Baby Driver), Shun Oguri (Gintama), Jessica Henwick (Iron Fist), Demian Bichir (The Nun), Van Marten (Avengers: Infinity War), Zhang Ziyi (Crouching Tiger, Hidden Dragon) serta Shun Oguri (Gintama). Film ini pun menghadirkan Millie Bobby Brown, yg awal mulanya bermain di Godzilla: King of Monsters. Mengenai Wingard menegaskan film ini bakal memiliki nuansa serius, karena dia tidak mau pertempuran dua monster legendaris ini dipandang main-main belaka. Tidak hanya itu, Wingard ikut mau pertempuran Godzilla serta Kong tidak selesai menggantung, lantaran dia bermaksud tentukan pemenang duel ini dengan cara gamblang.

Tayang Perdana

  • Godzilla Vs Kong Akan Diliris 22 Mei 2020

Review Trailer Perdana Pokemon Detective Pikachu

Review Trailer Perdana Pokemon Detective Pikachu

Review Trailer Perdana Pokemon Detective Pikachu

RockAndRaaga. – Untuk anda yang kesehatan nalarnya tetap terbangun, yang mempunyai arti dengan cara rasional merasa film live-action Pokemon merupakan satu lelucon, ada berita terkini nih: film itu nyata-nyatanya sungguhan . Menjadi buktinya, anda dapat memirsa sendiri trailer perdana Pokemon: Detective Pikachu dibawah berikut ini.

Serta soal sangat ganjil —kalau semisalnya rancangan Pokemon yang dikombinasi dengan dunia riil belumlah juga cukuplah ganjil untuk anda— merupakan realitas kalau sang Pokemon tituler, si kuning imut lucu Pikachu disuarakan oleh Deadpool. Oke, anda bisa saja memang sudah mengetahui kalaupun Ryan Reynolds bakal memainkan peran Pikachu. Tetapi dengar nada Reynolds tiap saat Pikachu buka mulut mungilnya, sukar untuk tidak kepikiran kalaupun ini kelihatan seperti satu kembali parodi hasil Deadpool.

Film ini bakal disentil di film Deadpool 3 / X-Force?

Sebentar, sebentar. Apakah itu berarti Pikachu disini sudah berubah? Tak seperti yang biasa kita kenal dengan trademark suara “Pika Pika”-nya? Tidak juga. Pikachu yaa tetap Pikachu. Bagi orang-orang, ia cuma bisa bilang “Pika Pika”. Kecuali bagi Tim Goodman (Justice Smith) yang bisa mendengarnya bicara bahasa Inggris dalam suara Deadpool. Tim barangkali adalah satu-satunya manusia yang bisa mengerti Pikachu. Tim kemudian bekerja sama dengan Pikachu untuk mencari ayahnya yang hilang.

Sinopsis Pokemon Detective Pikachu

Cerita dimulai ketika detektif handal, Harry Goodman hilang secara misterius, mendorong putranya yang berusia 21 tahun, Tim untuk mencari tahu apa yang terjadi. Membantu dalam penyelidikan adalah mantan mitra Pokémon Harry, Detective Pikachu: detektif super yang sangat bijaksana dan menggemaskan, yang membingungkan bahkan bagi dirinya sendiri.

Tahu bahwa mereka bisa berkomunikasi satu sama lain, Tim dan Pokemon bergabung dalam petualangan yang mendebarkan untuk mengungkap misteri. Bersama mencari petunjuk melalui jalan-jalan neon di Kota Ryme — sebuah metropolis modern yang luas di mana manusia dan Pokémon hidup berdampingan dalam dunia live-action yang hiper-realistik — mereka menemukan beragam karakter Pokémon dan mengungkap plot mengejutkan yang dapat menghancurkan ko-eksistensi damai ini dan mengancam seluruh semesta Pokémon.

Yah, begitulah. Dalam film ini, Pokemon ternyata hidup normal bersama manusia sebagaimana yang kita dapati di game/anime-nya. Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai macam Pokemon, dan trailer ini dengan cerdik menyelipkan beberapa Pokemon populer yang sudah sangat familiar dengan kita. Mulai dari Pysduck, Charizard, Bulbasaur, dan yang bakal membuat bergidik, Mr Mime.

Sejujurnya, saya tak mengira akan mendapatkan ini dari film trailer live-action Pokemon. Tapi saya suka. Barangkali karena saya senang saja melihat Pokemon versi realistik yang digambarkan sangat setia dengan versi orisinalnya. CGI-nya mantap, tapi yang lebih luar biasa… nostalgianya.

Tayang Perdana :

  • Pokemon: Detective Pikachu direncanakan tayang pada 11 Mei 2019.
  • Disutradarai Oleh : Rob Letterman ( Goosebumps )

Review Film Hantu Bangku Kosong Era 90an

Review Film Hantu Bangku Kosong Era 90an

Review Film Hantu Bangku Kosong Era 90an

RockAndRaaga. –  Anak-anak angkatan ’90-an tentunya tahu sama cerita hantu bangku kosong. Tahun 2006, ada film horor Indonesia yang ceritanya tentang hantu itu. Pas itu, film horor Indonesia kembali naik banget, semua teman-teman gue sangat up to date sama film horor dalam negeri. Di film itu, diceritain seorang anak cewk yang di-bully sama teman-teman ceweknya, lalu mati bunuh diri dan gentayangin sekolahnya.

Banyak rumor masalah asal-muasal urban legend cerita horor ini. Salah satunya gosipnya yaitu dari sekolah bekas gebetan gue pas SMP. Sebut saja dia Inem. Gue nggak enak, jadi gue nggak akan ngungkap nama sekolahnya, yang pasti lokasinya di bilangan Jakarta Pusat. Sekolah Inem ini sekolah ketinggalan jaman kritis. Sekolah pribadi cewek yang sudah berdiri sampai beberapa ratus tahun dari zaman penjajahan Belanda. Gokil. Bayangin saja seangker apakah kalau sudah setua itu. Jangankan gedungnya, treatment pengajarannya juga disiplin setelah – saat ini sich sudah lebih manusiawi setau gue. Dan karena treatment guru-guru yang disiplin parah ini, ada murid yang sampai jadi korban serta dahulu digosipin jadi inspirasi film Hantu Bangku Kosong.

Film Hantu Bangku Kosong

Inem cerita, dulu di sekolahnya, guru-gurunya killer banget. Kalau ada murid yang dateng gak ngerjain PR, disuruh pulang! Nah, ada murid SMA yang pernah kena. Dia disuruh pulang gara-gara buku PR-nya ketinggalan di rumah. Masalahnya, pas dia lagi jalan pulang, dia ketabrak mobil di jalan depan sekolahnya.

Sejak itu, sebagai semacam wujud duka cita, satu bangku sengaja dilebihin dan dikosongin untuk mengenang si murid SMA ini beberapa lama. Tapi, bukan di situ seremnya. Seremnya tuh guru killer ini jadi digentayangin. Arwah si murid SMA emang gak muncul, tapi setiap kali si guru killer lagi ngabsen murid di kelas, selalu lebih satu pas diitung. Pas lagi ulangan, selalu ada lebih satu kertas jawaban yang nyampe di tangan dia. Di kolom nama kertas yang lebih itu selalu satu nama yang sama yang muncul: nama murid SMA yang meninggal ketabrak mobil.

Guru killer itu akhirnya keluar dari sekolah karena stress. Tapi, tetep suka ada yang aneh. Inem juga cerita, kadang-kadang pintu kelas suka kebuka sendiri. Dan tau gak apa yang dilakukan guru-guru di sekolahnya? Mempersilakan masuk siapapun itu yang buka pintunya buat ikut belajar bareng.

Review Film God of Gambler

Riview God Of Gambler Film Bergenre Action Comedi

Riview God Of Gambler Film Bergenre Action Comedi

RockAndRaaga. – Ko Chun (Chow Yun Fat) dikenal sebagai Dewa Judi. Ko Chun memiliki kemampuan supranatural yang selalu membuatnya menang saat berjudi. Biarpun sudah banyak yang mendengar serta mengagumi Dewa Judi, tetapi tidak banyak yang mengetahui identitasnya. Dewa Judi tetap menghindari publikasi media. Namun, Dewa Judi dengan mudah dapat dikenali dengan ciri-cirinya, adalah rambut klimis disisir ke belakang, suka coklat, serta cincin giok hijau di kelingking kirinya. Ko Chun sedang berada di Tokyo bersama dengan kekasihnya, Janet. Tuan Tanaka menantang Ko Chun bermain Mahjong dan dadu. Pada pertandingan itu Tanaka mesti mengaku kehebatan Ko Chun.

Tanaka lalu memohon perlindungan terhadap Ko Chun. Tanaka meminta Ko Chun berlaga menantang penjudi asal Singapura, Chan Kam Sing. Tanaka ingin membalas dendam terhadap Chan yg udah mengakibatkan kematian ayahnya. Ayah Tanaka bunuh diri sehabis kalah berjudi melawan Chan. Ko Chun menerimanya serta memohon imbalan coklat setelah selesai menjalankan tugasnya nanti. Tanaka ikut memberikan Ko Chun seseorang pengawal.

Michael Chan (Andy Lau) atau Little Knife adalah seorang penjudi yang juga penggemar Dewa Judi. Suatu malam, Knife memasang sebuah perangkap di jalan untuk mencelakai tetangganya yang selalu melewati jalan itu dengan membawa dua anjingnya yang buas.

Sementara itu, Ko Chun menjadi target buruan rivalnya setelah menerima cek karena menang berjudi. Perkelahian sengit terjadi di dalam sebuah kereta dan pengawal Tanaka berhasil melindungi Ko Chun. Ko Chun berhasil lolos, turun dari kereta. Tetapi Ko Chun justru masuk ke perangkap yang dipasang Knife. Ko Chun terjatuh dan kepalanya mengenai batu hingga terluka.

Pertarungan Melawan Chan Kam Sing

Setelah mengetahui perangkapnya salah sasaran, Knife membawa Ko Chun ke rumahnya. Ko Chun tinggal dan dirawat hingga pulih oleh nenek Knife dan kekasih Knife, Jane. Tapi sayang, Ko Chun mengalami amnesia (kehilangan daya ingat) sebagian. Ko Chun menjadi seperti anak kecil. Tidak ada yang mengetahui identitas Ko Chun, termasuk Knife. Karena Ko Chun suka coklat, Knife memanggil nama Ko Chun dengan sebutan Coklat.

Knife akhirnya mengetahui kemampuan Ko Chun. Knife memanfaatkan Ko Chun untuk mencari uang dengan berjudi dengan imbalan coklat. Hingga suatu ketika Ko Chun kalah banyak karena Knife tidak berhasil menemukan coklat kesukaan Ko Chun. Knife marah dan membawa Ko Chun di keramaian. Knife bermaksud meninggalkan Ko Chun. Tapi karena perasaan bersalah, Knife membatalkan niatnya. Knife juga berusaha mengembalikan ingatan Ko Chun dengan membawanya ke dokter.

Bagaimana Ko Chun mendapatkan kembali ingatannya? Apa yang akan dilakukan Ko Chun setelah mengetahui orang terdekatnya berkhianat? Apakah Ko Chun berhasil menepati janjinya untuk mengalahkan Chan?

Bicara tentang film perjudian, pasti semua mengetahui film God of Gambler. Bahkan, sumber di IMDB menyebutkan God Of Gambler adalah perintis film Mandarin bertema perjudian. Saya sendiri menonton film ini pertama kali di bioskop, saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena masih terlalu kecil jadi saya sudah lupa sebagian besar ceritanya. Menurut Mama saya, God of Gambler termasuk film yang meledak pada jamannya dan melegenda hingga saat ini.

Cerita God of Gambler cukup lumayan untuk sebuah film yang menghibur. Ceritanya sangat ringan dan mudah dipahami. Meskipun mengangkat tema tentang judi, penonton tidak dibuat pusing dengan istilah-istilah dalam permainan kartu. Sesekali penonton diajak untuk melihat atraksi Chow Yun Fat sebagai Dewa Judi, yaitu saat perebutan batu Mahjong, mengocok kartu, mengurut kartu, dan melempar kartu. Saat film memasuki menit-menit yang membosankan ketika Dewa Judi mengalami amnesia dan menjadi seperti anak kecil, Andy Lau berhasil memecah kebosanan dengan aksi-aksi lucunya.

Dua hal yang sedikit mengganggu dari film ini adalah pengkhianatan orang terdekat Ko Chun yang terkesan tiba-tiba dan terlalu dipaksakan. Fungsi keberadaan karakter Janet sebagai seorang kekasih Ko Chun juga tidak terlalu terlihat jelas. Usaha Janet untuk mencari Ko Chun saat mengalami kecelakaan juga tidak tampak di dalam film.

Terlepas dari kekurangannya, pertemuan dua bintang besar Hongkong di film ini, Chow Yun Fat dan Andy Lau menjadi pengobat rindu para penggemarnya. Dalam film ini, saya lebih menyukai Chow Yun Fat, baik saat menjadi Dewa Judi Bandar QQ maupun saat menjalani amnesia. Bagaimana dengan Anda?