Review Film Roma 

Review Film Roma 

Review Film : Roma

RockAndRaaga. – Melihat Roma, saya jadi susah sampai rasa-rasanya ingin menangis. Film ini termasuk juga ke type film yang membuat saya kasihan dengan diri pribadi. Film yang membuat saya gundah gulana. Film yang membuat saya merenung dalam. Film yang membuat saya berkontemplasi, bertafakur tentang arti kehidupan serta inti eksistensi manusia di muka bumi. Pertanyaan mengenai nasib serta takdir berseliweran di pikiran saya. Mengapa semua semacam ini? Mengapa tidak semacam itu? Apakah memang berikut takdir saya? Mengapa saya dilahirkan ke dunia? Apakah salah ibu serta bapak saya? Rasa-rasanya saya ingin lari ke pantai, serta sambil menghambat deburan ombak, saya ingin berteriak:

Inilah film yang mendapatkan pujian universal di kelompok praktisi film. Ratingnya hampir prima. Di MetaCritic, score akhir hasil dari rata-rata rating yang dikasihkan kritikus ialah “96%”. Angka yang juga sama laku pada konsensus RottenTomatoes, walau mereka memakai skema scoring yang berlainan. Dari semua ulasan, cuma satu saja Top Critics yang memberi Tomat Busuk. Rating akhir pemirsa di IMDb ialah “8,2”, menempatkannya menjadi film terunggul ke-207 selama hidup. Sesaat di tempat ini, saya justru mengerti perihal yang lainnya. Mungkin telah nasib saya jadi reviewer receh seumur hidup. Mungkin saya memang hanya patut jadi bekas opak di kaleng Khong Guan-nya dunia pereviewan film. Mungkin saya semestinya memang kembali beternak ayam saja di kampung.

Roma adalah film terbaru dari Alfonso Cuaron, sineas hebat yang merupakan sutradara Meksiko pertama yang pernah mendapat Oscar. Ia menyebut film ini sebagai filmnya yang “paling personal” sejauh ini. Mungkin personal buat Cuaron, tapi yang jelas, tak begitu buat saya. Kepiawaiannya menyutradarai terpampang dengan begitu jelas di layar, kita langsung tahu bahwa film ini pasti dibuat oleh orang yang sudah berbakat dari lahir atau barangkali sudah punya banyak pengalaman. Namun, saya tak merasakan dampak film ini sebagaimana yang (saya pikir) ia maksudkan.

Film ini merupakan film semiautobiografis dari Cuaron mengenai masa kecilnya pada tahun 70an di sebuah kota bernama Roma di Meksiko. Alih-alih berfokus pada kehidupan masa kecilnya, Cuaron memilih untuk menceritakan sisi yang belum diceritakan, mengenai orang penting yang kerap dilupakan. Ia memberi tribut kepada orang yang hampir seumur hidup tak bernama, tapi telah sangat berjasa membesarkannya.

Menarik juga menyaksikan film yang menempatkan elemen yang lebih riuh, dan biasanya lebih sinematis, di latar belakang, sementara elemen yang tidak dramatis menjadi bagian utama. Sedari awal Cuaron sudah mengisyaratkan ini lewat adegan pembuka yang simpel tapi punya impresi kuat. Kita melihat pesawat yang terbang di langit lewat pantulan genangan air di lantai. Lantai tersebut tergenang air karena sedang dipel.

Yang mengepelnya adalah Cleo (Yalitza Aparicio), satu dari dua pembantu yang bekerja bagi sebuah keluarga kelas menengah yang terdiri dari ibu Sofia (Arina de Tavira), bapak (Fernando Grediaga), dan empat anak yang masih kecil-kecil. Bersama temannya, Adela (Nancy Garcia), Cleo dengan rajin bermain QQ Online dan tanpa lelah mengurus rumah tangga, mulai dari mencuci, memasak, merawat anak-anak, sampai membersihkan lantai dari kotoran anjing yang seperti tak pernah habis-habis.

Mereka adalah pembantu yang ideal; patuh dan sangat mencintai keluarga majikan. Dan untungnya, mereka juga mendapat majikan yang lumayan pengertian. Bukan berarti keluarga ini juga ideal. Si ibu kayaknya selalu sibuk dan lalai mengurus anak, barangkali karena sedang gundah gulana mikirin suami yang punga seribu satu alasan agar bisa lama-lama tak pulang ke rumah.

Drama tersebut berada di latar belakang, sebagaimana banyak drama besar yang bakal terjadi nanti. Kita cuma diajak untuk mengamati kehidupan Cleo. Yah, sebetulnya Cleo juga punya drama sendiri sih. Lewat Adela, ia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Fermin (Jorge Antonio Guerrero). Sebagaimana diperagakannya sebelum bercinta, Fermin mahir beladiri. Fermin juga mahir melarikan diri saat Cleo memberitahu bahwa ia hamil.

Semua ini dituturkan tanpa melodrama menye-menye. Anda boleh jadi merasa tak banyak hal yang terjadi selama film berlangsung, karena Cuaron benar-benar back to basic. Untuk film ini, ia tak menggunakan score, alih-alih sound design yang tajam. Ia lebih memilih untuk memakai nama-nama yang relatif tak dikenal sebagai pemain. Kecuali pemeran si ibu, semua aktornya tak pernah bermain di layar kaca sebelumnya.

Gambarnya, yang disorot sendiri oleh Cuaron, menggunakan format hitam-putih. Kualitas sinematografinya mantap. Ada beberapa adegan hitam-putih yang sangat cantik yang meyakinkan kita berkali-kali bahwa ini adalah film yang sangat nyeni, yang dibuat oleh sutradara yang paham betul soal pengambilan gambar. Film ini juga banyak memakai sorotan panjang, seringkali secara berkeliling mencari Agen Judi Poker, dengan presisi yang terukur yang menangkap geografi dengan efektif. Menjelang film berakhir, kita merasa kita mengenal betul setiap sudut dari rumah yang diurus Cleo.

Sekilas Roma terkesan tak seheboh film Cuaron yang sudah-sudah. Namun di belakang kisah Cleo, ada latar dengan skala yang epik: kisruh politik, persoalan marital, krisis ekonomi, hingga kesenjangan sosial. Semua ini bergerak sengan senyap di belakang Cleo. Kita melihatnya sekilas di layar, lalu menghilang dalam sekejap, untuk kemudian kita diseret kembali lagi ke kehidupan Cleo. Ada dua adegan Poker Omaha  paling mengesankan. Yang pertama adalah adegan dimana ketuban Cleo pecah ketika terjadi kerusuhan di jalanan yang berakhir menjadi apa yang dikenal sebagai Tragedi Berdarah Corpus Cristi. Ada begitu banyak elemen yang bergerak secara bersamaan yang dibangun dengan detail yang luar biasa oleh Cuaron. Meski begitu, ia tak tergoda untuk memamerkannya dengan kentara.

Kemudian, adegan klimaks dimana Cleo mati-matian melawan ombak demi memperjuangkan sesuatu yang ia sadar sangat ia cintai. Ini merupakan pengejawantahan dramatis dari pengorbanan yang tulus tanpa balas jasa. Adegan ini sangat nampol, bahkan meski kita tak tahu konteksnya. Begitulah briliannya Cuaron. Namun, di lain sisi ini juga cukup disayangkan. Bagian ini seharusnya nampol bukan karena itu saja, melainkan juga karena efek dari pembangunan cerita. Ini seharunya merupakan kulminasi dari apa yang datang sebelumnya. Namun saya tak mendapatkan gregetnya dari sana.

Alfonso Cuaron sebelumnya pernah membuat film kecil yang intim lewat A Little Princess dan Y Tu Mama Tambien. Ia kemudian dengan sukses menaklukkan blockbuster dengan Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Children of Men, dan Gravity. Untuk semua itu, ia masih menjadi sutradara yang saya puja. Saya tahu atmosfer dan narasi yang lempeng memang disengaja untuk film ini. Roma digarap dengan sangat terampil, tapi saya kesulitan untuk larut di dalamnya. Saya merasa jauh dengan Cleo. Film ini lebih mudah saya apresiasi daripada saya cintai.

Review Film: How to Train Your Dragon The Hidden World

Review Film How to Train Your Dragon The Hidden World

Review Film: How to Train Your Dragon The Hidden World (2019)

RockAndRaaga. – Sesudah sembilan tahun belajar langkah melatih naga, jagoan kita, Hiccup (Jay Baruchel) tentunya sudah seharusnya lulus; jika tidak, yaa dropout sebab telah melalui dari standard 7-tahun-nya Kemristekdikti. Jadi saat ini bukan masalah melatih naga kembali. Jadi, suka menjumpai jika How to Train Your Dragon 3 yang disebut film paling akhir dari franchisenya, betul-betul bertindak menjadi penutup yang utama. Film ini memberi kita peristiwa menegangkan, yang memang tidak dapat dijauhi, dengan (((cukuplah))) cocok. Dia juga sekaligus memberikan jawaban memuaskan masalah mengapa manusia tidak kembali menjumpai naga sekarang ini.

Sudah banyak yang berubah selama hampir satu dekade. Hiccup sudah jadi kepala suku Berk, melanjutkan tongkat estafet dari ayahnya. Brewoknya sudah mulai tumbuh. Ia juga harus siap melanjutkan hubungannya dengan Astrid (America Ferrerra) ke jenjang yang lebih jauh, soalnya Astrid pasti juga gak mau digantung terus. Naga peliharaan Hiccup, seekor Night Fury yang diberi nama Toothless, sudah menjadi naga alfa, yang membuatnya bisa memerintah naga mana pun. Satu hal yang membuat How to Train Your Dragon menarik dicermati adalah karena filmnya bertumbuh bersama karakter. Para jagoan kita bertambah dewasa, demikian pula dengan masalah mereka. Ceritanya dibangun dengan menyadari perubahan dalam rentang waktu yang panjang.

Di film pertama, Hiccup berhasil membuat sukunya hidup harmonis dengan naga, merubah mereka dari pemburu naga menjadi penjinak naga. Di film berikutnya, ia sukses mengatasi ancaman dari tim pemburu naga yang dipimpin si sadis Drago Bludvist dengan naga raksasanya. Setelah semua itu, apalagi coba konflik yang bakal dihadapi Hiccup dan Toothless? Kayaknya sih tak ada yang bisa lebih besar.

How to Train Your Dragon The Hidden World

Itulah kenapa ancaman baru dari Grimmel the Grisly (F. Murray Abraham) tak begitu menggigit, padahal ia punya pasukan naga kalajengking yang bisa menyemburkan asam korosif dari mulut mereka. “Kamu belum pernah ketemu yang seperti aku,” ujar Grimmel kepada Hiccup saat ia nyaris berhasil menculik Toothless. Namun kita serasa sudah pernah. Film ini butuh sesuatu untuk menggerakkan Hiccup dan sukunya dari kampung halaman mereka. Dan Grimmel hanyalah duri kecil yang bertugas untuk itu.

Tujuan mereka adalah surga dunia bagi para naga, tempat misterius yang bernama “Hidden World”. Gak hidden-hidden banget sih, soalnya kita sudah bisa melihatnya dengan utuh di pertengahan film. Tapi saya tak akan komplain. “Hidden World” benar-benar surga visual; tempat yang dibangun dengan CGI mempesona, dihiasi dengan warna-warni neon yang menyilaukan mata. Kualitas gambar di film ketiga ini melewati semua yang pernah kita lihat di film pendahulunya. Detailnya luar biasa. Sutradara Dean DeBlois, yang terbang solo sejak film kedua, memanfaatkan kedinamisan mediumnya untuk memberikan sekuens aerial yang imersif.

Menemukan “Hidden World” bukan satu-satunya masalah Hiccup. Sobat karibnya, Toothless sedang kasmaran karena baru berjumpa dengan naga satu spesies yang diberi nama Light Fury. Kasmarannya sudah kronis, sampai Toothless harus menggelinjang tak karuan demi menarik perhatian sang gebetan. Ini membuat Hiccup tertinggal, dengan konflik batin yang Hiccup sendiri pun tak tahu. Tanpa Toothless, Hiccup ternyata menjadi protagonis yang tak begitu menarik. Disini saya menyadari bahwa Hiccup ini sebetulnya adalah karakter yang lumayan membosankan. Ia tak *uhuk* bergigi tanpa naganya.

Hal yang sama barangkali juga berlaku untuk karakter yang sudah kita kenal dari film-film sebelumnya. Kita berjumpa kembali dengan si kembar Tuffnut (Justin Rupple) dan Ruffnut (Kristen Wiig), Fishleg (Christopher Mintz-Plasse), Gobber (Craig Ferguson), Eret (Kit Harrington), Snotlout (Jonah Hill), serta ibu Hiccup, Valka (Cate Blanchett). Mereka *benar-benar* terasa seperti karakter pendukung saja, entah itu untuk memperumit situasi atau sekadar ngelawak.

Namun barangkali itu bukan poin utamanya. Semua hiruk pikuk tersebut hanyalah mekanika plot agar Hiccup bisa meninjau kembali hubungannya dengan Toothless. Film ini tak ragu-ragu untuk memberikan pernyataan realistis tentang bagaimana arti sesungguhnya dari peduli terhadap seseorang/sesuatu. Menatap tujuan baru dan merelakan yang telah berlalu. Tak begitu emosional, tapi film memolesnya dengan cara melandaskan konflik internal ini lewat flashback yang melibatkan Hiccup kecil dengan ayahnya Stoick (Gerard Butler).

Meski plotnya tak begitu mengikat, ada banyak hal yang sangat layak untuk disaksikan dari film ini, khususnya kualitas animasinya yang mengalami peningkatan cukup signifikan. Meski demikian, How to Train Your Dragon 3 pantas eksis bukan cuma karena alasan itu saja; ia punya cerita lama untuk disimpulkan walau tak punya cerita baru untuk diceritakan.

Review Film Johnny English Strike Again

Review Film Johnny English Strike Again (2018)

Review Film Johnny English Strike Again (2018)

RockAndRaaga. – Review Film  Johnny English Strike Again (2018) merupakan sekuel dari seri film awal kalinya adalah Johnny English (2003) serta Johnny English Reborn (2011). Apabila bicara perihal Johnny English, pastinya langsung terbersit di pikiran kita figure Mr. Bean yang bertindak jadi agen mata-mata. Kalian tidak mengerti Mr. Bean? pastinya kalian bercanda kan? Rowan Atkinson merupakan figure yang benar-benar sama dengan andil ini. Branding serta pembentukan sifat yang benar-benar kuat membuat Rowan Atkinson jadi aktor yang dapat disebutkan “legend” pada dunia perfilman komedi dunia. Kesempatan ini, film Johnny English Strike Again di kerjakan oleh David Kerr. Cast berbeda yang turut serta dalam film bertipical drama komedi ini beberapa sama juga dengan seri Johnny English awal kalinya seperti Ben Miller, serta beberapa nama baru salah satunya merupakan Olga Kurylenko, Emma Thompson, Jake Lacy, Charles Dance, Miranda Hennessy, serta Adam James. Pengen tahu seperti apakah ceritanya?

Narasi Johnny English Strike Again bermula dari terdapatnya serangan cyber pada satu malam yang menyingkap semua permasalahan Agen Domino Inggris di semua dunia. MI7 sebagai tubuh intelijen Inggris yang membawahinya jadi kebingungan. Pegasus (Adam James), ketua MI7 memberikan laporan masalah ini terhadap Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson). Dengan sigap IM7 langsung bekerja buat mengatasi soal serta memahami sumber soal. Lantaran semua data mata-mata udah tersingkap, pegasus selanjutnya mesti gunakan mata-mata yang udah pensiun jadi pilihan buat menyingkap dalang dari soal ini.

Strike Again (2018)

Singkatnya, terpilihlah Johnny (Rowan Atkinson) jadi calon lantaran pegasus tidak memiliki pilihan yang berbeda. Johnny yang awal mulanya udah jadi seseorang guru, harus tinggalkan sekolah serta murid-muridnya buat pekerjaan ini. Dia cuma pengen diasisteni oleh mitra lamanya adalah Bough (Ben Miller). Perjalanan Johnny serta Bough di awali dengan menyelidik Judi Poker disebuah hotel di Perancis sebagai salah satu clue buat menyingkap perkara ini. Johnny serta Bough bekerja tiada gunakan satu juga gadget mengingat Johnny merupakan mata-mata yang udah uzur serta gaptek lantaran tidak dapat gunakan semua gadget. Alih-alih gunakan senjata serta alat-alat mutakhir seperti mata-mata biasanya, dia lebih pilih gunakan peralatan mata-mata yang old school buat mensukseskan misinya.

Pengumpulan bukti-bukti dari hotel berkembang hingga sampai pada suatu kapal pesiar punya milyarder muda Jason (Jake Lacy). Dalam kapal itu, Johnny bertatapan dengan wanita cantik kaki tangan Jason bernama Ophelia (Olga Kurylenko). Sesaat Johnny senantiasa lakukan pekerjaannya, kondisi di Inggris bertambah kritis. Penjahat cyber sukses meretas bermacam publik skema yang membuat kondisi di London jadi karut marut. Johnny didesak oleh PM Inggris buat memercepat geraknya. Dia bertambah ada diposisi yang serba sukar serta terjepit dengan beberapa Agen QQ lainya ketidak tahuannya tentang technologi yang harusnya bisa memberi dukungan. Bagaimana cerita Johnny English setelah itu? Ingin tahu kan?

Tidak dapat di pungkiri tindakan lucu Rowan Atkinson lah sebagai daya tarik kita buat saksikan film ini. Serta dia sukses lakukan aktingnya dengan baik serta membuat saya ketawa terpingkal-pingkal selama film ini dengan semua tingkah polah laganya. Tapi, plot yang di tawarkan dalam film ini dapat dikatakan tidak ada yang spesial dengan ending yang simpel tertebak. Olga Kurylenko ada serta jadi penyegar mata dengan kecantikannya di selama film ini. Acting wanita yang sempat bermain dalam banyak film box office seperti Quantum Of Solace (2008) serta Oblivion (2013) udah tidak usah dikuatirkan kembali. Hingga over all, film ini jadi film yang pantas kamu saksikan serta membuat kamu ketawa selama film. Yuk cek agenda penayangannya!

Info Film

Review Film Aquaman

Review Film Aquaman ( 2018 )

Review Film Aquaman ( 2018 )

RockAndRaaga. – Bila kalian sempat menyaksikan film Justice League (2017), tentu kalian sudahlah tidak asing dengan pribadi Aquaman. Yaps benar sekali! Aquaman ialah satu dari superhero DC Extended Universe (DCEU). Kesempatan ini DC Comic teristimewa mengangkut film yg bercerita Aquaman jadi tokoh pokok dengan judul Aquaman (2018). Film sejenis action fantasi ini masih tetap didistribusikan oleh Warner Bros Pictures serta disutradarai oleh James Wan. Dengan skenario oleh David Leslie Johnson-McGoldrick serta Will Beall, dari satu narasi oleh Geoff Johns, Wan serta Beall, film ini masih tetap di bintangi oleh Jason Momoa jadi sifat Aquaman. Cast beda yg turut berperan dalam film ini ialah Amber Heard, Willem Dafoe, Patrick Wilson, Dolph Lundgren , Yahya Abdul-Mateen II, serta Nicole Kidman.

Narasi Aquaman (2018) diawali dengan adegan pertemuan ke dua orang-tua Arthur atau yg nanti diketahui jadi Aquaman (Jason Momoa). Bapak Arthur ialah seseorang penjaga mercusuar bernama Tom Curry (Temuera Morrison). Tom tdk berencana menemukannya seseorang wanita yg terdampar di pantai dekat tempat tinggalnya waktu badai yg selanjutnya dia kenali jadi putri penguasa dunia bawah air Atlantis bernama Atlanna (Nicole Kidman). Atlanna kabur dari Atlantis sebab didesak untuk menikah dengan pangeran yg tdk dia cinta. Pertemuan Atlanna dengan Tom membuat kedua-duanya sama sama jatuh hati. Merekapun tinggal berbarengan sampai lahirlah Arthur. Akan tetapi, kebahagiaan itu tdk tahan lama. Tdk lama selesai Arthur lahir pasukan dari Atlantis ada menjemput Atlanna.

Sebab pingin selamatkan nyawa anak serta suaminya, Atlanna menurut untuk kembali pada Atlantis. Di Atlantis, Atlanna didesak ayahnya untuk menikah serta pada akhirnya melahirkan satu orang putra bernama Orm (Patrick Wilson). Akan tetapi, berita terkait anak haram Atlanna dalam dunia atas pada akhirnya terbongkar. Suami Atlanna murka serta melaksanakan Atlanna dengan membuangnya ke dunia hitam sarang legiun monster amfibi yg diketahui jadi Trench. Arthur tumbuh berbarengan ayahnya tiada sempat kembali dapat lihat muka ibunya. Akan tetapi sebelum dijalankan, ibunya berkirim Vulko (Willem Dafoe) untuk melatih serta mengawasi Arthur sampai dia dewasa. Arthur miliki kebolehan dalam bermain dadu online dan untuk berkomunikasi serta tahu semua bentuk kehidupan laut. Dia pun tumbuh jadi mestinya manusia Atlantis yg dapat hidup di di air serta miliki kebolehan yg besar.

Film Aquaman ( 2018 )

Setahun selesai invasi Steppenwolf, Arthur dewasa melawan sekumpulan perompak yg mengupayakan bajak kapal selam nuklir. Pemimpin mereka, Jesse Kane (Michael Beach), wafat saat konfrontasi sesaat putranya, David atau yg di panggil Manta (Yahya Abdul-Mateen II), bersumpah membalas dendam pada Arthur. Sedang Atlantis saat ini di pimpin oleh Raja Orm yg mengambil alih ayahnya. Orm serta Manta bersekongkol untuk mengelabuhi Raja Nereus (Dolph Lundgren) untuk wujudkan kemauannya kuasai semua lautan serta dunia darat. Cara Orm serta Manta sukses, Nereus ingin masuk dalam penggabungan ini. Orm beri teguran di dunia atas dengan mengantarkan tsunami yg membawa semua sampah serta kapal perang yg berada pada lautan. Mera (Amber Heard), putri dari Nereus sekalian tunangan dari Orm tdk sama pendapat dengan mereka. Dia tdk mengidamkan ada pertumpahan darah pada bangsa Atlantis serta bangsa atas.

Untuk menyudahi misi jahat Orm & ayahnya, dia memohon dukungan Arthur untuk mengambil tahta Atlantik sebab dia pun memiliki hak atas itu. Awal mulanya Arthur tdk tertarik. Akan tetapi, sebab sejumlah fakta pada akhirnya dia sepakat untuk menunjang Mera. Untuk menaklukkan Orm serta mengaku tahta, Arthur mesti lebih dahulu menemukannya Trident of Atlan punya raja pertama yg bangun Atlantis serta membuatnya benar-benar berjaya. Cuma raja yg kenyataannya lah yg sanggup menemukannya serta menggenggam artefak itu. Terus berhasilkah Arthur serta Mera sukses menemukannya Trident of Atlan serta menyudahi peperangan? Keseruan apakah yg mereka hadapi saat perjanan itu? Ingin tahu kan?

Aquaman (2018) datang dengan tawarkan tontonan superhero dengan CGI yg mengagetkan. Rasa-rasanya seperti lihat setting film Avatar (2009) dengan technologi senjata film Star Wars, tapi berseragam seperti film kolosal Romawi kuno. Satu kali lagi kata yg dapat dikatakan untuk mewakili hal semacam itu ialah “Mind Blowing!”. Kecuali CGI yg aduhai, film ini pun di dukung oleh cast yg memesona. Terlebih cast pentingnya ialah Jason Momoa serta Amber Heard. Pesan untuk menilai sejumlah generasi terkait habit serta perlakuannya pada lautan juga mengena. Bila DC populer dengan perbuatan superheronya yg selamanya super serius, kesempatan ini Aquaman disajikan dengan sejumlah humor yg membuat kita kadangkala ketawa serta tdk tegang. Jadi, waktu penayangan film yg hampir 2,5 jam ini dapat benar-benar tdk rasanya. Ingin tahu? Yuk saksikan Aquaman serta cek skedul penayangannya di Bioskop Today.

Review Film The Disaster Artist

Review Film The Disaster Artist

Review Film The Disaster Artist ( 2018 )

RockAndRaaga. – sebuah karya yang bagus perlu 3 elemen: sumber daya, spirit, serta bakat. Seperti Segitiga Api, dia takkan sukses waktu ada satu saja elemen yang kurang. Film The Room yang ditulis, disutradarai, serta di bintangi Tommy Wiseau ialah apakah yang berlangsung waktu dia tidak miliki elemen paling akhir. Saya bukan melebih-lebihkan, sebab sebenarnya memang demikian. The Room didaulat menjadi salah satunya film terburuk selama hidup. Karena sangat melegendanya, sampai sekarang ini penayangan filmnya masih tetap dengan teratur diselenggarakan oleh beberapa fans, sering didatangi langsung oleh Wiseau.

Masalah prediket “terburuk”, satu film takkan jadi legenda jika sebatas jelek saja. Ada yang namanya film jelek pemancing migrain serta ada juga film yang demikian jelek sampai menontonnya jadi menghibur. Saya meyakini beberapa orang selalu membicarakannya bahkan juga sesudah 15 tahun, bukan sebab inkompetensi Wiseau belaka tetapi sebab bagaimana sikapnya yang demikian passionate pada filmnya. Wiseau yakin jika dia membuat film terunggul. Daya itu menyebar, mz.

Cukuplah masalah The Room; ini kan penjelasan The Disaster Artist. The Disaster Artist ialah pendekatan komedi yang bercerita tentang bagaimana The Room dapat eksis. Filmnya berjalan di garis tipis pada olok-olok serta animo. Bagaimana kembali coba langkah membuat film mengenai hal itu jika bukan melalui komedi. Bahkan juga film yang serius juga tentu jadi kocak waktu kita lihat kericuhan di belakang monitor yang berlangsung saat syuting The Room serta absurditas kepribadian Wiseau.

Saat tampil untuk tunjukkan potensi aktingnya di muka kelas teater, Tommy (James Franco) dengan ketertarikan berteriak “STELLA! STELLA! AAKK!” seakan tengah kesurupan. Tidak ada manusia normal yang memandang ini menjadi akting sungguhan. Akan tetapi Greg Sestero (Dave Franco, adiknya James) teracuni oleh semangat Tommy, karena dia sendiri tidak miliki kepedean sebesar itu. Bahkan juga Judi Bandar Ceme pun, Tommy tidak malu-malu melawan Greg untuk membawakan dialog drama selantang mungkin seakan tengah jadi orator demo 212.

Berbagi mimpi yang sama untuk menjadi bintang Hollywood seperti James Dean, keduanya berangkat menuju kota Los Angeles. Bermodal wajah ganteng, Greg berhasil mendapatkan agen meski tak demikian dengan kerjaan. Plus, Greg dapat pacar namanya Amber (Alison Brie). Lain cerita dengan Tommy yang bernasib naas. Ia ditolak mentah-mentah saat mendekati seorang produser.

Kalau memang Hollywood tak siap menerima kita, bagaimana kalau kita membuat film sendiri? Kira-kira begitulah usul Greg. Nah, yang menarik adalah Tommy punya sumber daya. Uangnya begitu berlimpah, sampai ia mau saja membeli kamera alih-alih menyewanya sebagaimana kebanyakan sutradara, membangun set sendiri alih-alih memakai properti di dunia nyata, dan merekrut siapapun yang mau bergabung dengan proyeknya, skrip yang kemudian kita kenal dengan nama “The Room” yang diklaim Tommy sebagai drama terdahsyat sekaliber karya Tenessee Williams.

Tommy adalah figur misterius dan film ini tak mencoba untuk memecahkannya. Di akhir film, kita masih takkan tahu dari mana sumber kekayaannya, dimana kampung halamannya (Tommy bilang New Orleans tapi logatnya mengisyaratkan bahwa ia mungkin saja berasal dari kastil drakula), atau berapa usia sebenarnya (ia mengaku 20 tahunan tapi wajahnya tak bilang begitu). Film, yang ditulis oleh Scott Neustadter & Michael H. Weber langsung dari memoir Greg Sestero, tetap memperlakukannya sebagai enigma, sebagaimana kebanyakan penggemar melihat Wiseau asli.

Film ini mengambil pendekatan yang simpel, lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi di balik produksi The Room. Bagian yang lebih menyasar insight mengenai Wiseau disederhanakan dengan konflik bagaimana Greg tetap mendukung Tommy padahal ia sadar bahwa Tommy jelas tak tahu apa yang sedang dilakukannya atau bagaimana Tommy yang selalu ngedumel setiap kali Greg bawa-bawa pacar. Tak ada yang mengerti Tommy, bahkan Greg sekalipun.

Film ini disutradarai oleh James Franco, tapi jelas ia lebih mantap sebagai aktor daripada sebagai sutradara disini. Dengan rambut panjang dan bantuan make-up, Franco benar-benar terlihat dan terdengar seperti Wiseau, termasuk logat ganjil dan tawa anehnya. Kita bisa merasakan seberapa telaten Franco mempelajari karakter aslinya. Namun ia tak sekedar melakukan olok-olok, melainkan juga menangkap semangat dan kerentanannya. Muka lempeng dan tatapan nanar Tommy memang minta dikasihani.

Proses produksi The Room ternyata memang kacau sekali dan inilah bagian dimana The Disaster Artist benar-benar lucu. Kegilaan di lokasi syuting tentu saja bersumber dari Tommy, sementara para kru, yang diantaranya diperankan Seth Rogen, Jacki Weaver, Josh Hutcherson, Zac Efron, dkk, sedari awal menyadari bahwa situasi akan semakin memburuk. Franco membuat reka ulang sekaligus memberi latar belakang yang tak banyak orang tahu soal beberapa adegan kunci dari The Room (yaa, misalnya kenapa Tommy memegang botol air mineral pas adegan “Oh, hi Mark”). Untuk memamerkan seberapa detail hasil kerjanya, di akhir film Franco memasukkan reka ulang adegan ikonik yang diletakkan bersebelahan dengan adegan aslinya.

Saya kira The Disaster Artist berhutang banyak kepada The Room dan Wiseau. Film ini takkan menjadi lucu kalau sumbernya tak lebih lucu. Menonton The Room akan membuat anda mengapresiasi The Disaster Artist, begitu pula sebaliknya. Tapi saya tak bisa bilang bahwa film ini adalah tribut buat Wiseau dan The Room. Film ditutup dengan ending yang memposisikan sang kreator dan kreasinya sebagai obyek yang yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Apa yang mereka tertawakan? Kekonyolan filmnya atau kekonyolan orang yang begitu passionate menciptakan sesuatu meski tanpa talenta?

Review Trailer The Disaster Artist

Review Film Robin Hood

Review Film Robin Hood

Review Film Robin Hood

RockAndRaaga. – Nama Robin Hood mungkin tidak asing kembali di telinga kita. Tokoh ini pernah di filmkan ikut awal mulanya dengan judul Robin Hood: Prince of Thieves (1991), The Story of Robin Hood and His Merrie Men (1952), serta ada banyak film lainnya yang mengusung tokoh populer ini. Robin Hood (2018) kesempatan ini ialah film berjenis action adventure garapan Otto Bathurst serta ditulis oleh Ben Chandler serta David James Kelly. Film ini sah launching oleh Lionsgate pada 21 November 2018. Aktor-aktor simpatisan film ini adalah aktor yang butuh diakui sebab banyak mendapatkan pujian dalam memainkan film-film mereka awal mulanya. Di antara aktor-aktor simpatisan itu ialah Taron Egerton, Jamie Foxx, Ben Mendelsohn, Eve Hewson, Team Minchin, serta Jamie Dornan.

Narasi Robin Hood (2018) bermula dari Nottingham, Inggris. Seseorang anak bangsawan bernama Robin of Loxley (Taron Egerton) jatuh hati pada seseorang gadis cantik bernama Marian (Eve Hewson) yang ingin mengambil kuda dari kastilnya untuk menolong tetangga Marian yang kesulitan. Robin ialah seseorang yatim piatu yang mempunyai warisan berlimpah serta tinggal di kastilnya seperti seseorang raja. Dia ajak Marian untuk tinggal di kastilnya serta mereka berdua jadi pasangan yang begitu dicintai oleh masyarakat seputar sebab seringkali menolong masyarakat yang kesulitan. Sekejap, jalinan Robin serta Marian berjalan begitu indah. Akan tetapi, semua beralih waktu Robin mendapatkan surat harus militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn) yang mewajibkannya untuk pergi ke Timur Tengah untuk menolong tentara Inggris dalam Perang Salib. Dengan berat hati Robin tinggalkan Marian serta memintanya untuk menunggunya pulang serta masih tinggal di Kastilnya.

Beberapa waktu berlalu, Robin dipulangkan ke Nottingham sebab dipandang berhianat dengan eksperimen menggagalkan eksekusi mati anak seseorang panglima tentara Arab bernama Yahya bin Umar atau yang setelah itu di panggil dengan panggilan Little John (Jamie Foxx). Sesampainya di Nottingham, Robin begitu terperanjat merasakan kastilnya sudah porak poranda serta dibiarkan Robin selekasnya mencari sahabatnya Friar Tuck (Team Minchin) untuk tahu apakah yang berlangsung.

Tuck menceritakan bahwa dua tahun waktu lalu Sheriff menginformasikan jika Robin jadi salah satunya prajurit yang gugur dalam Perang Salib serta tidak lama sesudah itu, dia mengambil alih kastil Robin menjadi property sitaan perang serta mengusir semua masyarakat seputar kastil termasuk juga Marian untuk geser serta kerja di pertambangan. Tiada berfikir panjang, Robin selekasnya mencari Marian ke pertambangan tapi dia mesti sedih sebab merasakan Marian telah mempunyai kekasih bernama Will Scarlet (Jamie Dornan) yang disebut aktifis pembela nada rakyat kecil. Robin geram serta sadar jika Sheriff sudah memanupulasinya. Di tengah kemarahannya yang mencapai puncak, John tidak diduga muncul serta memberi inspirasi hilang ingatan untuk hentikan perang serta membalas tindakan Sheriff.

Tahu Nottingham ialah bank serta sumber dana dari perang salib, Robin serta John merencanakan untuk merampok sumber dana itu supaya perang tak akan dapat bersambung. Mereka mulai membuat taktik serta berlatih untuk memperlancar laganya. Robin berlaga sendirian waktu merampok serta memakai samaran utuk menutupi identitasnya. Perampokan untuk perampokan sukses dia kerjakan. Uang hasil bermain bandar togel online tidak dia pakai untuk memperkaya diri pribadi tetapi dia bagi-bagikan untuk rakyat miskin. Tindakan Robin mulai mengundang perhatian baik dari masyarakat miskin ataupun Sheriff. Robin jadi buronan nomor satu di Nottingham. Berhasilkah Robin sampai arah untuk hentikan perang? Bagaimana lanjutan tindakan Robin menantang Sheriff?

Film ini berkesan begitu menjemukan sebab tidaklah terlalu ada kebaruan alur cerita yang di tawarkan dalam narasi Robin Hood kesempatan ini. Cerita yang dipakai berkesan menjemukan, banyak adegan action yang berkesan “so last year”, serta lelucon yang pada akhirnya jadi tidak lucu. Film ini pula tidak memiliki arah final atau ending yang pasti hingga semua berkesan serba tanggung. Akan tetapi, film ini tertolong oleh jejeran aktor yang oke dengan aktingnya yang jempolan serta dampak spesial moderen atau CGI yang okay. Kelihatannya film ini kurang sukses bila memiliki arah untuk memperbaharui cerita classic Robin Hood.

Review Trailer Robin Hood

Review Film Venom ( 2018 )

Review Film Venom ( 2018 )

Review Film Venom ( 2018 )

RockAndRaaga. – Jika kalian penggemar film superhero Spiderman, kalian pastinya tak akan asing dengan figur Venom. Venom (2018) merupakan film produksi Sony yg bercerita mengenai tokoh jahat dalam film Spiderman 3, Venom. Namun kalau kalian mengharap akan mendapatkan Spiderman dalam film ini, persiapan sedih ya. Cerita Venom kesempatan ini tak ada sangkut pautnya dengan Spiderman. Di sutradarai oleh Ruben Fleischer, Venom sukses mengubah imagenya dari penjahat bengis jadi tokoh yg heroik. Ditambah lagi, cast dalam film ini pula memberi dukungan kesuksesan film ini seperti Tom Hardy, Michelle Williams, Marcella Bragio, Woody Harrelson, Jenny Slate, serta Riz Ahmed. Ingin tahu bagaimana ceritanya?

Film Venom kali ini menceritakan asal muasal Venom sampai ke Bumi. Yups, Venom sebenarnya bukanlah makhluk yang berasal dari Bumi melaikan dari planet asing. Seorang pengusaha teknologi muda ambisius bernama Carlton Drake (Riz Ahmed) mengirim teamnya untuk melakukan penjelajahan angkasa guna mengambil sampel kehidupan dari planet asing lain. Di dalam perjalanan pulang menuju Bumi, pesawat yang berhasil membawa beberapa sampel makhluk asing tersebut mengalami kecelakaan, terbakar, dan jatuh di Malaysia. Satu sampel berhasil lepas, dan dua yang lainnya berhasil diselamatkan lalu dibawa ke lab milik yayasan yang dipimpin olehnya di California. Makhluk sampel-sampel ini dinamai symbiote dan mulai dipelajari oleh peneliti-peneliti kepercayaannya salah satunya adalah Dr. Dora Skirth (Jenny Slate).

Di kota yang sama, Eddie Brock (Tom Hardy) memiliki karir yang bagus sebagai jurnalis. Selain mempunyai karir yang bagus, Eddie Brock juga memiliki tunangan yang cantik bernama Anne Weying (Michelle Williams) yang merupakan penjudi Poker QQ yang sukses juga. Hubungan mereka berjalan sangat baik dan akan segera mempersiapkan pernikahan sampai suatu saat, Eddie ditugasi untuk mewawancarai Carlton Drake yang akan meluncurkan Roket ke luar angkasa. Dari awal Eddie sudah mempunyai bad feeling akan Carlton Drake dan dengan halus ia menolak tawaran itu.

Tetapi, berhubung yang memberikan instruksi langsung adalah pimpinan perusahaannya, Eddie akhirnya mengiyakan. Tanpa sengaja, Eddie melihat berkas Anne yang menghandle yayasan milik Carlton Drake. Drake dikabarkan banyak menggunakan manusia khususnya mereka yang miskin untuk menjadi kelinci percobaan dalam lab nya dan keluar dengan keadaan tak bernyawa. Singkat kata, Eddie akhirnye bertemu Carlton Drake untuk wawancara.

Ia seharusnya mewawancarai Carlton Drake tentang roket barunya yang akan diluncurkan ke luar angkasa dalam waktu dekat. Drake percaya jika bumi sedang sekarat dan manusia perlu mencari dunia baru untuk tempat tinggal dan menemukan cara untuk bertahan di sana. Namun, pertanyaan Eddie jauh berbeda dari itu dan malah memojokkan Drake akan kasus percobaan yang menelan banyak korban jiwa di labnya. Eddie akhirnya harus kehilangan semuanya karena wawancara itu. Ia dipecat, begitu juga Anne dan mereka berpisah.

Dr. Dora Skirth yang mengetahui kebenaran tentang apa yang dikatakan Eddie berusaha menghubungi Eddie dan membawa Eddie untuk melihat bukti langsung ke dalam lab. Namun, kecelakaan yang tidak diinginkan terjadi di lab. Eddie berhasil lolos dalam kejadian itu tapi ia problem baru karena salah satu symbiote yang ada di lab menjadi parasit ditubuhnya. Lalu apa yang selanjutnya terjadi?

Tom Hardy sebagai tokoh utama yang berperan sebagai Eddie Brock/Venom selalu tampil mempesona dalam setiap filmnya termasuk dalam film ini. Jika kalian akan berencana menonton film ini, saran saya, kalian harus mengosongkan pikiran agar sosok Venom pada film Spiderman 3 tidak menjadi patokan kalian. Dalam filmnya kali ini, Venom menjelma menjadi makhluk yang sebenarnya tidak sejahat itu bahkan bisa dibilang Venom menjadi pahlawan.

Hal ini mungkin menjadi pro kontra tersendiri khususnya bagi kalian penggemar fanatik komik-komik Marvel. Tetapi, untuk kalian yang memang bukan fans Marvel pasti akan baik-baik saja. Cerita yang disajikan dalam film juga cukup menarik dengan banyak unsur komedi yang membuat kita banyak tertawa dan tidak tegang bahkan pada adegan action sekalipun. Bagaimana? Penasaran dengan film ini

Review Trailer Venom ( 2018 )

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

RockAndRaaga. – Dua orang sahabat yaitu Sonny (Jeremy Ray Taylor) serta Sam (Caleel Harris) mengumpulkan barang bekas dan secara tidak sengaja menemukan boneka yang dapat bicara bernama Slappy yang datang dari salah satu seri Goosebumps yang tidak pernah diterbitkan oleh R. L. Stine. Slappy menculik Ibu Sonny serta menghidupkan rekan-rekan hantunya saat Halloween.

Goosebumps 2: Haunted Halloween adalah film sekuel dari cerita awal mulanya Goosebumps (2015) dalam naungan rumah produksi yang sama adalah Sony Pictures Animation. Mungkin kita tidak asing dengan cerita Goosebumps sebab film ini memang di inspirasi dari narasi seri buku popular berjudul sama karangan R. L. Stine. Film Goosebumps 2: Haunted Halloween kali ini mengangkat aktor-aktor yang berlainan dari film awal mulanya seperti

  • Wendi McLendon-Covey
  • Madison Iseman
  • Jeremy Ray Taylor
  • Caleel Harris
  • Ken Jeong
  • Chris Parnell
  • Bryce Cass

Akan tetapi, ada satu tokoh kunci yang masih dimainkan oleh aktor yang sama yakni Jack Black yang bertindak menjadi penulis R. L. Stine. Disutradarai oleh Ari Sandel, film berjenis drama comedy ini siap menghibur kalian khususnya penggemar karya-karya novel series populer Goosebumps.

Film Goosebumps kali ini berawal dari cerita sebuah keluarga yang terdiri dari kakak beradik Kathy (Wendi McLendon-Covey) dan Sonny (Jeremy Ray Taylor), yang tinggal bersama ibu mereka, seorang single parents bernama Sarah (Madison Iseman). Kehidupan mereka tadinya baik-baik saja sampai akhirnya suatu saat Sonny dan temannya Sam (Caleel Harris) mendapatkan telpon untuk membersihkan sebuah rumah. Hal ini sangat baik karena mereka berdua baru saja mendirikan usaha pengangkutan sampah rumah tangga dan baru selesai mempromosikannya.

Karena sangat senang dengan klien pertama mereka, tanpa berpikir panjang mereka langsung bergegas menuju ke alamat yang telah diberikan. Tetapi, sesampainya di alamat tersebut, mereka mendapati bahwa rumah yang akan mereka bersihkan adalah rumah kosong bekas toko mainan yang bernama Indobookie agen terpercaya. Ada sedikit keraguan dalam hati mereka untuk memasuki rumah tersebut. Namun, mereka tidak mau mengecewakan klien pertama mereka. Oleh karena itu, mereka tetap masuk ke rumah tersebut dan membersihkan barang-barang yang tidak terpakai di sana.

Di tengah kegiatan bersih-bersih, tanpa sengaja mereka menemukan sebuah ruang penyimpanan rahasia yang membawa mereka ke dalam masalah yang tidak mereka ketahui. Ruang rahasia itu menyimpan sebuah peti yang di dalamnya berisi sebuah buku yang mengandung kutukan. Buku itu terkunci. Sonny & Sam yang penasaran membuka buku tersebut. Setelah buku tersebut terbuka, tidak lama keluarlah boneka bernama Slappy.

Awalnya tidak ada yang aneh dengan Slappy. Sonny dan Sam membawa Slappy pulang. Semua baik-baik saja sampai akhirnya Slappy menunjukkan jadi dirinya. Ia hidup dan dapat berbicara dengan Sonny & Sam. Slappy sangat haus akan kehadiran keluarga dan ingin menjadi bagian dari keluarga Sonny. Namun, Slappy ternyata boneka yang jahat. Ia mempunyai kekuatan super yang dapat mencelakai orang lain. Ia juga dapat membuat benda-benda mati menjadi hidup.

Sonny & Sam tidak dapat mengatasi Slappy sendiri. Mereka akhirnya meminta Kathy untuk menolong mereka. Bersama Kathy, Sonny, & Sam berhasil membuang Slappy ke sungai. Tapi jangan bahagia dulu, Slappy yang tidak terima dibuang berencana melakukan pembalasan. Ia berusaha membuat keluarga sendiri dengan menghidupkan semua atribut Halloween dan menerror kota. Kota kacau balau dan dipenuhi oleh monster-monster aneh dalam khayalan benar-benar hidup. Tidak berhenti sampai di situ, Slappy juga berusaha untuk menjadikan Sarah sebagai ibu kandungnya dan merubahnya menjadi boneka. Akan kah Kathy, Sonny, dan Sam berhasil menghentikan Slappy?

Film ini memang cocok jika dijadikan sebagai film Halloween karena memang penuh berisi monster-monster yang menyeramkan. Namun, monster yang muncur dalam film Goosebumps 2 ini tidak terlalu berbeda dengan filmnya yang pertama. Alur juga berjalan degan normal tanpa ada kejutan yang berarti. Ending cerita pun dengan mudahnya dapat tertebak. Tidak ada twist yang berarti. Namun, jangan sedih, film ini masih dikategorikan sebagai film yang menghibur dan membawa kengerian Halloween bagi Anda dan keluarga. Apalagi bagi Anda pecinta novel seri Goosebumps. Yuk cek jadwal penyangannya di Bioskop Today.

Review Trailer Goosebumps 2 : Huanted Halloween

Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Kekacauan Bumi Di Masa Apocalyptic

RockAndRaaga. –  Untuk kamu yang tengah menanti film Hollywood paling baru apakah yang akan tampil di minggu pertama bulan Desember 2018 ini? Mortal Engines ialah jawabannya. Trailernya mungkin tidak memuaskan kamu. Tersebut penjelasan atau ulasan Mortal Engines dari RockAndRaaga.

Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) ialah seseorang arkeolog yang berusaha untuk berfikir maju ke depan. Bersama dengan kota raksasanya dia ingin bangun kehidupan yang lebih baik buat umat manusia di waktu sesudah “60 minute war” serta saat ini.

Dia tinggal dalam suatu kota besar London. Bukan London yang ada di belahan utara bumi. Akan tetapi, London yang dapat beralih dari satu tempat ke tempat yang lain. Benar, bumi tidak dapat ditempati. Tidak ada kembali tanah yang dapat jadikan menjadi landasan fondasi untuk bangun rumah.

Tanah-tanah yang tersisa hanya tanah yang dapat dikendarai oleh kendaraan dengan roda besar. Di dukung dengan mesin-mesin yang disebut masa lalu dari tehnologi waktu kemarin. Busi, iPhone sampai computer tablet. Apapun tehnologi yang berada di waktu lantas jadikan menjadi sumber simpatisan kehidupan.

Satu kembali, Thaddeus mesti singkirkan kota-kota kecil tiada nama yang berkeliaran di tanah bumi yang telah gersang. Keuntungannya, dia dapat ambil mesin serta tehnologi dari kota-kota kecil ini serta bangun impiannya akan kehidupan bumi yang lebih baik.

Pada satu waktu, pada saat penjelajahannya “memakan” kota-kota kecil, Thaddeus sukses membekuk satu kota kecil yang di isi oleh beberapa orang tidak berkapasitas. Akan tetapi, ada yang menunggunya disana. Dia ialah Hester Shaw (Hera Hilmar).

Seseorang gadis muda yang tetap tutup mukanya dengan masker. Tetap dapat menaruh benda-bendam rahasia dibalik bajunya. Miliki waktu lantas yang kelam serta malah di besarkan oleh makhluk aneh serta mengerikan bernama Shrike, manusia yang dirubah jadi Frankenstein di waktu Apocalyptic.

Pertemuan Hester dengan Thaddeus Valentine semestinya mengagetkan. Akan tetapi, kebalikannya, Hester dijatuhkan dengan gampang. Misinya untuk temukan Thaddeus Valentine tidak sukses.

Akan tetapi, Hester berjumpa dengan beberapa orang baru dengan tidak tersangka. Ada Tom Natsworthy (Robert Sheehan) pemuda yang tertarik dengan tiap-tiap tehnologi serta riwayat waktu kemarin. Dia juga berjumpa dengan Anna Fang (Jihae) seseorang pemberontak yang tahu benar cerita Hester di waktu kemarin.

Ditambah kembali, Anna nyatanya miliki perseteruan kebutuhan dengan Thaddeus. Sang arkeolog ingin sekali membokar rahasia Anna. Semasing orang miliki kebutuhan serta perseteruan. Akan tetapi, nyatanya mereka mempunyai satu sumber arah yang sama.

Satu benda sakral yang dulunya dipunyai oleh seseorang Arkeolog wanita bernama Pandora Shaw. Dapatkah Hester singkirkan Thaddeus? Atau Thaddeus yang terlebih dulu membuka tabir punya Anna? Apakah yang sebetulnya ingin diketemukan oleh beberapa orang ini saat bumi telah hancur luluh lantah? Dapatkan jawabannya di film Mortal Engines. Mulai tampil ini hari, 5 Desember 2018 di bioskop-bioskop CGV Cinemas, Cinemaxx, serta XXI.

Sudut Pandang Fantasi Apocalyptic

Mortal Engines memiliki cerita dengan latar belakang masa-masa apocalyptic. Mungkin selama ini kamu sudah menonton beberapa film dengan latar yang sama. Sebut saja Mad Max: Fury Road atau A Quiet Place jadi film dengan tema kehancuran bumi. Mortal Engines pun hadir dengan latar cerita yang sama.

Namun, yang membedakannya adalah, Mortal Engines punya kekuatan dalam menampilkan fantasi-fantasi liarnya. Apalagi film ini diadaptasi dari novel karya Philip Reeve yang disebut mampu membagi cerita-ceritanya dengan rapi, mengejutkan dengan konflik dan bagaimana ia menuangkan fantasinya dalam sekumpulan tulisan.

Namun, semua tulisan Philip Reeve ini ternyata mampu ditransformasi dengan cukup baik oleh Christian Rivers. Ditambah lagi untuk penulis naskah dan produse film ini ada nama Peter Jackson. Orang yang sukses membangun sebuah fantasi penonton dengan film-film seperti trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit atau The Adventures of Tintin. Hal ini yang juga diadaptasi dengan baik di sepanjang film.

Penonton akan dimanjakan dengan gambaran bagaimana sebuah kota bergerak dengan kekuatan mesin dan roda-roda besar. Fantasi tentang hancurnya bumi hingga pakaian dan budaya yang terjadi setelah kehidupan manusia tidak lagi teratur disajikan dengan cukup baik.

Belum cukup sampai di situ, penonton akan dimanjakan dengan fantasi bagaimana pesawat tempur dimodifikasi sedemikian rupa dimasa apocalyptic. Satu hal yang mungkin tidak akan terbayangkan di pikiran penonton. Film ini juga mengajak penonton untuk berfantasi bagaimana seandainya perangkat gawai seperti super komputer atau iPhone tidak lagi ada gunanya.

Bukan spoiler, namun film ini sedikit memberikan visualisasi satirnya memperlihatkan bagaimana perangkat gawai ini jadi benda usang di museum London. Artinya, jika benda-benda yang kita pegang sekarang ini menjadi tidak berarti jika perang memang benar-benar terjadi. Apalagi, jika perang tersebut membawa kehancuran bagi bumi.  Lalu, bagiamana dengan jalan cerita film Mortal Engines sendiri?

Jalan Cerita Mortal Engines

Tidak seperti film yang diadaptasi dari novel lainnya, Mortal Engines sedikit lebih baik. Penyampaian ceritanya tidak terburu-buru atau asal jadi. Secara tepat film ini mampu menggambarkan setiap momen-momen penting dari karakter-karakter utama film. Bahkan bisa dikatakan penyampaian cerita melalui buku, mampu dirangkum dengan tepat melalui filmnya.

Bahkan ketika film ini menyajikan cerita dengan alur maju-mundur, Mortal Engines masih bisa memberikan kepuasan kepada penontonnya. Menunggu kejutan-kejutan yang sudah disiapkan dari pertengahan hingga akhir film. Ada beberapa twist yang ditampilkan, sayangnya tidak menampilkan adegan permainan Qiu Qiu Online dan dimaksimalkan dengan baik oleh para pemerannya.

Meskipun Hera Hilmar yang berperan sebagai Hester Shaw jadi pionir di dalam film ini, namun ia terlihat tampil biasa saja. Hanya Hugo Weaving yang sudah dikenal sebagai pemeran antagonis di trilogi Matrix atau Red Skull di film Captain America: The First Avenger yang tampil dengan baik di film ini.

Masih ada nama Jihae yang berperan sebagai Anna Fang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun, kesempatan wanita dari Korea Selatan ini tidak terlalu besar di sepanjang film. Sisanya, terlalu banyak karakter yang dimunculkan membuat beberapa plot film menjadi terasa tidak nyaman untuk ditonton.

Satu lagi, film ini akan sangat kental dengan aksen British. Hampir setiap dialognya tampil “gagah” dan terkesan “arogan” seperti halnya aksen orang-orang Inggris lainnya. Secara keseluruhan, Mortal Engines mampu menawarkan satu perspektif yang berbeda tentang kehidupan di masa depan. Peter Jackson dan seluruh tim kreatif yang dibalik layar kompak memainkan fantasi penonton dengan gaya kehidupan manusia di masa kehancuran bumi.

Review Trailer Mortal Engines

 

Review Film Insidious The Last Key

Review Film Insidious The Last Key

Review Film Insidious The Last Key ( 2018 )

RockAndRaaga. –  Saya tidak tahu yang manakah duluan: judul filmnya atau spesies hantunya. Akan tetapi Insidious: The Last Key memancing saya untuk berprasangka buruk jika judul itu adalah trick dari pembuat filmnya buat jaga-jaga, pastikan supaya kita tidak lupa. Saat kelak mengulas filmnya, pemirsa automatis akan merujuk pada “itu lhoo, yang ada Hantu Kunci-nya”. Mudah diingat kan? “Last (((Key)))” — Hantu (((Kunci))). Mereka mengetahui kita akan melupakan film ini, jadi mereka menyiapkan kode pengingat.

Bicara masalah Hantu Kunci, seakan-akan namanya belumlah cukuplah konyol, penampakannya ikut tidak kalah menggelikan. Hantu Kunci miliki jemari yang berupa kunci. Manfaat kunci itu adalah untuk buka beberapa puluh jeruji besi di “The Further”, semesta paralel astral yang di Indonesia ekuivalen dengan arti “Alam Gaib”. Akan tetapi kuncinya dapat juga digunakan untuk meneror. Jadi kunci itu akan dimasukkan ke leher atau dada manusia (janganlah menanyakan), cetekk!, lantas, uhm bagaimana yaa ngomongnya, akan berlangsung suatu. Semacam itu. Kayanya sich.

Sama dengan franchise-nya yang tidak kunjung mati, demikian juga dengan Elise Rainier (Lin Shaye), paranormal spesialis Insidious yang telah meninggal di film pertama. Penulis skrip Leigh Whannell tentu menyesal lakukan hal itu sebab Elise jadi apakah yang pemirsa senang dari Insidious. Whannell membangkitkannya kembali di film ke-3 yang bercerita masalah lama Elise. The Last Key lengkapi dengan menggali origin story Elise sekaligus juga mengantar kita berjumpa pada keluarga Dalton di film pertama. Secara singkat: film ini adalah sekuel dari film prekuel sekaligus juga prekuel dari film pertamanya.

Film dibuka pada tahun 1950an, ketika Elise kecil (Ava Kolker) tinggal di rumah yang berada tepat di sebelah komplek lembaga pemasyarakatan dan, tentu saja, berhantu. Elise melihatnya sendiri. Adiknya, Christian (Pierce Pope) terang saja takut melihat kakaknya yang menggumamkan hal-hal mistis. Ibunya (Tessa Ferrer) menganggap Elise istimewa dan ini adalah bakatnya. Sayangnya sang ayah (Josh Stewart) tak percaya pada hal-hal seperti ini. Ketika Elise bilang melihat ia melihat hantu, ayah akan langsung memukul Elise sejadi-jadinya dan mengurungnya di basement.

Disinilah terjadi hal yang tak diinginkan, dimana Elise tak sengaja membuka pintu merah yang misterius.

Singkat cerita, Elise kabur dari rumah. Bukan karena melihat setan yang superseram, melainkan karena tak tahan dengan perlakuan abusif ayahnya. Kita kemudian kembali ke tahun 2010, saat Elise (Shaye) sudah menjadi paranormal sukses. Suatu hari, ia mendapat permintaan untuk mengusir setan dari sebuah rumah. Dan rumah tersebut ternyata adalah rumahnya saat kecil dulu!

Tentu saja, Elise akan didampingi oleh dua asistennya, Specs (Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) yang kompetensinya soal hal paranormal setara dengan kru Mistery Machine-nya Scooby-Doo. Horornya adalah kedua orang ini akan melontarkan banyak lelucon aneh yang saking garingnya, saya berharap ada penonton yang memainkan suara jangkrik setiap kali mereka mencoba ngelawak.

Ketika sesuatu yang supranatural terjadi, kita tak perlu bingung walau sedang Instagram-an di bioskop. Karakter kita akan menjelaskannya dengan cara ngomong sama diri sendiri atau orang lain, padahal mereka sudah tahu. Seolah-olah Whannell, yang masih setia menulis skrip, khawatir kita tak mengerti apa yang sedang terjadi di layar. Mendengar mereka melakukan ini dengan sangat sering sekali jelas membuat saya gerah.

Sutradara Adam Robitel sepertinya terjegal di rating “PG-13/13+” yang berarti harus lebih ramah daripada The Conjuring yang berating “R/Dewasa”. Namun ia juga keliru. Melama-lamakan adegan bukan berarti membangun suspens, itu namanya bertele-tele. Meski begitu, ada satu adegan horor yang cukup cerdik, yaitu saat Elise masuk gorong-gorong untuk membuka koper-koper misterius. Kita tahu kita akan diberi jump-scare, tapi tidak lewat cara yang kita duga.

Kalau mau jujur, ada juga sih bagian yang menarik. Plotnya sendiri sebenarnya lumayan segar. Ia menyentuh tragedi keluarga. Lagipula, sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya masih bingung bagaimana mekanisme paranormal melihat hantu. Kapan mereka yakin kalau yang mereka lihat adalah hantu? Yang tampangnya awut-awutan tak selalu hantu kan? Film ini menggunakannya dengan cerdik untuk sebuah twist, meski kalau dipikir-pikir, secara motivasi karakter, ini tak nyambung dengan peristiwa di awal film.

“The Further” adalah salah satu kreasi film horor yang menarik. Dalam The Last Key, dengan semakin berjalannya cerita, mitologi soal “The Further” makin membingungkan. Saya kira wajar bila sebagian penonton siap melambaikan tangan, menyerah mencerna plot. Film ini berisi banyak potongan yang tak jelas bagaimana hubungannya dengan bagian lain. Tahu-tahu di akhir film kita sudah ada di “The Further”. Saya tak bisa memastikan bahwa ini adalah film Insidious terburuk, tapi saya bisa bilang bahwa ini adalah film Insidious paling tak seru yang saya tonton.

Review Trailer Insidious “The Last Key”