Review Film Venom ( 2018 )

Review Film Venom ( 2018 )

Review Film Venom ( 2018 )

RockAndRaaga. – Jika kalian penggemar film superhero Spiderman, kalian pastinya tak akan asing dengan figur Venom. Venom (2018) merupakan film produksi Sony yg bercerita mengenai tokoh jahat dalam film Spiderman 3, Venom. Namun kalau kalian mengharap akan mendapatkan Spiderman dalam film ini, persiapan sedih ya. Cerita Venom kesempatan ini tak ada sangkut pautnya dengan Spiderman. Di sutradarai oleh Ruben Fleischer, Venom sukses mengubah imagenya dari penjahat bengis jadi tokoh yg heroik. Ditambah lagi, cast dalam film ini pula memberi dukungan kesuksesan film ini seperti Tom Hardy, Michelle Williams, Marcella Bragio, Woody Harrelson, Jenny Slate, serta Riz Ahmed. Ingin tahu bagaimana ceritanya?

Film Venom kali ini menceritakan asal muasal Venom sampai ke Bumi. Yups, Venom sebenarnya bukanlah makhluk yang berasal dari Bumi melaikan dari planet asing. Seorang pengusaha teknologi muda ambisius bernama Carlton Drake (Riz Ahmed) mengirim teamnya untuk melakukan penjelajahan angkasa guna mengambil sampel kehidupan dari planet asing lain. Di dalam perjalanan pulang menuju Bumi, pesawat yang berhasil membawa beberapa sampel makhluk asing tersebut mengalami kecelakaan, terbakar, dan jatuh di Malaysia. Satu sampel berhasil lepas, dan dua yang lainnya berhasil diselamatkan lalu dibawa ke lab milik yayasan yang dipimpin olehnya di California. Makhluk sampel-sampel ini dinamai symbiote dan mulai dipelajari oleh peneliti-peneliti kepercayaannya salah satunya adalah Dr. Dora Skirth (Jenny Slate).

Di kota yang sama, Eddie Brock (Tom Hardy) memiliki karir yang bagus sebagai jurnalis. Selain mempunyai karir yang bagus, Eddie Brock juga memiliki tunangan yang cantik bernama Anne Weying (Michelle Williams) yang merupakan penjudi Poker QQ yang sukses juga. Hubungan mereka berjalan sangat baik dan akan segera mempersiapkan pernikahan sampai suatu saat, Eddie ditugasi untuk mewawancarai Carlton Drake yang akan meluncurkan Roket ke luar angkasa. Dari awal Eddie sudah mempunyai bad feeling akan Carlton Drake dan dengan halus ia menolak tawaran itu.

Tetapi, berhubung yang memberikan instruksi langsung adalah pimpinan perusahaannya, Eddie akhirnya mengiyakan. Tanpa sengaja, Eddie melihat berkas Anne yang menghandle yayasan milik Carlton Drake. Drake dikabarkan banyak menggunakan manusia khususnya mereka yang miskin untuk menjadi kelinci percobaan dalam lab nya dan keluar dengan keadaan tak bernyawa. Singkat kata, Eddie akhirnye bertemu Carlton Drake untuk wawancara.

Ia seharusnya mewawancarai Carlton Drake tentang roket barunya yang akan diluncurkan ke luar angkasa dalam waktu dekat. Drake percaya jika bumi sedang sekarat dan manusia perlu mencari dunia baru untuk tempat tinggal dan menemukan cara untuk bertahan di sana. Namun, pertanyaan Eddie jauh berbeda dari itu dan malah memojokkan Drake akan kasus percobaan yang menelan banyak korban jiwa di labnya. Eddie akhirnya harus kehilangan semuanya karena wawancara itu. Ia dipecat, begitu juga Anne dan mereka berpisah.

Dr. Dora Skirth yang mengetahui kebenaran tentang apa yang dikatakan Eddie berusaha menghubungi Eddie dan membawa Eddie untuk melihat bukti langsung ke dalam lab. Namun, kecelakaan yang tidak diinginkan terjadi di lab. Eddie berhasil lolos dalam kejadian itu tapi ia problem baru karena salah satu symbiote yang ada di lab menjadi parasit ditubuhnya. Lalu apa yang selanjutnya terjadi?

Tom Hardy sebagai tokoh utama yang berperan sebagai Eddie Brock/Venom selalu tampil mempesona dalam setiap filmnya termasuk dalam film ini. Jika kalian akan berencana menonton film ini, saran saya, kalian harus mengosongkan pikiran agar sosok Venom pada film Spiderman 3 tidak menjadi patokan kalian. Dalam filmnya kali ini, Venom menjelma menjadi makhluk yang sebenarnya tidak sejahat itu bahkan bisa dibilang Venom menjadi pahlawan.

Hal ini mungkin menjadi pro kontra tersendiri khususnya bagi kalian penggemar fanatik komik-komik Marvel. Tetapi, untuk kalian yang memang bukan fans Marvel pasti akan baik-baik saja. Cerita yang disajikan dalam film juga cukup menarik dengan banyak unsur komedi yang membuat kita banyak tertawa dan tidak tegang bahkan pada adegan action sekalipun. Bagaimana? Penasaran dengan film ini

Review Trailer Venom ( 2018 )

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

Review Film GooseBumps 2 Huanted Halloween

RockAndRaaga. – Dua orang sahabat yaitu Sonny (Jeremy Ray Taylor) serta Sam (Caleel Harris) mengumpulkan barang bekas dan secara tidak sengaja menemukan boneka yang dapat bicara bernama Slappy yang datang dari salah satu seri Goosebumps yang tidak pernah diterbitkan oleh R. L. Stine. Slappy menculik Ibu Sonny serta menghidupkan rekan-rekan hantunya saat Halloween.

Goosebumps 2: Haunted Halloween adalah film sekuel dari cerita awal mulanya Goosebumps (2015) dalam naungan rumah produksi yang sama adalah Sony Pictures Animation. Mungkin kita tidak asing dengan cerita Goosebumps sebab film ini memang di inspirasi dari narasi seri buku popular berjudul sama karangan R. L. Stine. Film Goosebumps 2: Haunted Halloween kali ini mengangkat aktor-aktor yang berlainan dari film awal mulanya seperti

  • Wendi McLendon-Covey
  • Madison Iseman
  • Jeremy Ray Taylor
  • Caleel Harris
  • Ken Jeong
  • Chris Parnell
  • Bryce Cass

Akan tetapi, ada satu tokoh kunci yang masih dimainkan oleh aktor yang sama yakni Jack Black yang bertindak menjadi penulis R. L. Stine. Disutradarai oleh Ari Sandel, film berjenis drama comedy ini siap menghibur kalian khususnya penggemar karya-karya novel series populer Goosebumps.

Film Goosebumps kali ini berawal dari cerita sebuah keluarga yang terdiri dari kakak beradik Kathy (Wendi McLendon-Covey) dan Sonny (Jeremy Ray Taylor), yang tinggal bersama ibu mereka, seorang single parents bernama Sarah (Madison Iseman). Kehidupan mereka tadinya baik-baik saja sampai akhirnya suatu saat Sonny dan temannya Sam (Caleel Harris) mendapatkan telpon untuk membersihkan sebuah rumah. Hal ini sangat baik karena mereka berdua baru saja mendirikan usaha pengangkutan sampah rumah tangga dan baru selesai mempromosikannya.

Karena sangat senang dengan klien pertama mereka, tanpa berpikir panjang mereka langsung bergegas menuju ke alamat yang telah diberikan. Tetapi, sesampainya di alamat tersebut, mereka mendapati bahwa rumah yang akan mereka bersihkan adalah rumah kosong bekas toko mainan yang bernama Indobookie agen terpercaya. Ada sedikit keraguan dalam hati mereka untuk memasuki rumah tersebut. Namun, mereka tidak mau mengecewakan klien pertama mereka. Oleh karena itu, mereka tetap masuk ke rumah tersebut dan membersihkan barang-barang yang tidak terpakai di sana.

Di tengah kegiatan bersih-bersih, tanpa sengaja mereka menemukan sebuah ruang penyimpanan rahasia yang membawa mereka ke dalam masalah yang tidak mereka ketahui. Ruang rahasia itu menyimpan sebuah peti yang di dalamnya berisi sebuah buku yang mengandung kutukan. Buku itu terkunci. Sonny & Sam yang penasaran membuka buku tersebut. Setelah buku tersebut terbuka, tidak lama keluarlah boneka bernama Slappy.

Awalnya tidak ada yang aneh dengan Slappy. Sonny dan Sam membawa Slappy pulang. Semua baik-baik saja sampai akhirnya Slappy menunjukkan jadi dirinya. Ia hidup dan dapat berbicara dengan Sonny & Sam. Slappy sangat haus akan kehadiran keluarga dan ingin menjadi bagian dari keluarga Sonny. Namun, Slappy ternyata boneka yang jahat. Ia mempunyai kekuatan super yang dapat mencelakai orang lain. Ia juga dapat membuat benda-benda mati menjadi hidup.

Sonny & Sam tidak dapat mengatasi Slappy sendiri. Mereka akhirnya meminta Kathy untuk menolong mereka. Bersama Kathy, Sonny, & Sam berhasil membuang Slappy ke sungai. Tapi jangan bahagia dulu, Slappy yang tidak terima dibuang berencana melakukan pembalasan. Ia berusaha membuat keluarga sendiri dengan menghidupkan semua atribut Halloween dan menerror kota. Kota kacau balau dan dipenuhi oleh monster-monster aneh dalam khayalan benar-benar hidup. Tidak berhenti sampai di situ, Slappy juga berusaha untuk menjadikan Sarah sebagai ibu kandungnya dan merubahnya menjadi boneka. Akan kah Kathy, Sonny, dan Sam berhasil menghentikan Slappy?

Film ini memang cocok jika dijadikan sebagai film Halloween karena memang penuh berisi monster-monster yang menyeramkan. Namun, monster yang muncur dalam film Goosebumps 2 ini tidak terlalu berbeda dengan filmnya yang pertama. Alur juga berjalan degan normal tanpa ada kejutan yang berarti. Ending cerita pun dengan mudahnya dapat tertebak. Tidak ada twist yang berarti. Namun, jangan sedih, film ini masih dikategorikan sebagai film yang menghibur dan membawa kengerian Halloween bagi Anda dan keluarga. Apalagi bagi Anda pecinta novel seri Goosebumps. Yuk cek jadwal penyangannya di Bioskop Today.

Review Trailer Goosebumps 2 : Huanted Halloween

Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Apocalyptic

Review Film Mortal Engines Kekacauan Bumi Di Masa Apocalyptic

RockAndRaaga. –  Untuk kamu yang tengah menanti film Hollywood paling baru apakah yang akan tampil di minggu pertama bulan Desember 2018 ini? Mortal Engines ialah jawabannya. Trailernya mungkin tidak memuaskan kamu. Tersebut penjelasan atau ulasan Mortal Engines dari RockAndRaaga.

Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) ialah seseorang arkeolog yang berusaha untuk berfikir maju ke depan. Bersama dengan kota raksasanya dia ingin bangun kehidupan yang lebih baik buat umat manusia di waktu sesudah “60 minute war” serta saat ini.

Dia tinggal dalam suatu kota besar London. Bukan London yang ada di belahan utara bumi. Akan tetapi, London yang dapat beralih dari satu tempat ke tempat yang lain. Benar, bumi tidak dapat ditempati. Tidak ada kembali tanah yang dapat jadikan menjadi landasan fondasi untuk bangun rumah.

Tanah-tanah yang tersisa hanya tanah yang dapat dikendarai oleh kendaraan dengan roda besar. Di dukung dengan mesin-mesin yang disebut masa lalu dari tehnologi waktu kemarin. Busi, iPhone sampai computer tablet. Apapun tehnologi yang berada di waktu lantas jadikan menjadi sumber simpatisan kehidupan.

Satu kembali, Thaddeus mesti singkirkan kota-kota kecil tiada nama yang berkeliaran di tanah bumi yang telah gersang. Keuntungannya, dia dapat ambil mesin serta tehnologi dari kota-kota kecil ini serta bangun impiannya akan kehidupan bumi yang lebih baik.

Pada satu waktu, pada saat penjelajahannya “memakan” kota-kota kecil, Thaddeus sukses membekuk satu kota kecil yang di isi oleh beberapa orang tidak berkapasitas. Akan tetapi, ada yang menunggunya disana. Dia ialah Hester Shaw (Hera Hilmar).

Seseorang gadis muda yang tetap tutup mukanya dengan masker. Tetap dapat menaruh benda-bendam rahasia dibalik bajunya. Miliki waktu lantas yang kelam serta malah di besarkan oleh makhluk aneh serta mengerikan bernama Shrike, manusia yang dirubah jadi Frankenstein di waktu Apocalyptic.

Pertemuan Hester dengan Thaddeus Valentine semestinya mengagetkan. Akan tetapi, kebalikannya, Hester dijatuhkan dengan gampang. Misinya untuk temukan Thaddeus Valentine tidak sukses.

Akan tetapi, Hester berjumpa dengan beberapa orang baru dengan tidak tersangka. Ada Tom Natsworthy (Robert Sheehan) pemuda yang tertarik dengan tiap-tiap tehnologi serta riwayat waktu kemarin. Dia juga berjumpa dengan Anna Fang (Jihae) seseorang pemberontak yang tahu benar cerita Hester di waktu kemarin.

Ditambah kembali, Anna nyatanya miliki perseteruan kebutuhan dengan Thaddeus. Sang arkeolog ingin sekali membokar rahasia Anna. Semasing orang miliki kebutuhan serta perseteruan. Akan tetapi, nyatanya mereka mempunyai satu sumber arah yang sama.

Satu benda sakral yang dulunya dipunyai oleh seseorang Arkeolog wanita bernama Pandora Shaw. Dapatkah Hester singkirkan Thaddeus? Atau Thaddeus yang terlebih dulu membuka tabir punya Anna? Apakah yang sebetulnya ingin diketemukan oleh beberapa orang ini saat bumi telah hancur luluh lantah? Dapatkan jawabannya di film Mortal Engines. Mulai tampil ini hari, 5 Desember 2018 di bioskop-bioskop CGV Cinemas, Cinemaxx, serta XXI.

Sudut Pandang Fantasi Apocalyptic

Mortal Engines memiliki cerita dengan latar belakang masa-masa apocalyptic. Mungkin selama ini kamu sudah menonton beberapa film dengan latar yang sama. Sebut saja Mad Max: Fury Road atau A Quiet Place jadi film dengan tema kehancuran bumi. Mortal Engines pun hadir dengan latar cerita yang sama.

Namun, yang membedakannya adalah, Mortal Engines punya kekuatan dalam menampilkan fantasi-fantasi liarnya. Apalagi film ini diadaptasi dari novel karya Philip Reeve yang disebut mampu membagi cerita-ceritanya dengan rapi, mengejutkan dengan konflik dan bagaimana ia menuangkan fantasinya dalam sekumpulan tulisan.

Namun, semua tulisan Philip Reeve ini ternyata mampu ditransformasi dengan cukup baik oleh Christian Rivers. Ditambah lagi untuk penulis naskah dan produse film ini ada nama Peter Jackson. Orang yang sukses membangun sebuah fantasi penonton dengan film-film seperti trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit atau The Adventures of Tintin. Hal ini yang juga diadaptasi dengan baik di sepanjang film.

Penonton akan dimanjakan dengan gambaran bagaimana sebuah kota bergerak dengan kekuatan mesin dan roda-roda besar. Fantasi tentang hancurnya bumi hingga pakaian dan budaya yang terjadi setelah kehidupan manusia tidak lagi teratur disajikan dengan cukup baik.

Belum cukup sampai di situ, penonton akan dimanjakan dengan fantasi bagaimana pesawat tempur dimodifikasi sedemikian rupa dimasa apocalyptic. Satu hal yang mungkin tidak akan terbayangkan di pikiran penonton. Film ini juga mengajak penonton untuk berfantasi bagaimana seandainya perangkat gawai seperti super komputer atau iPhone tidak lagi ada gunanya.

Bukan spoiler, namun film ini sedikit memberikan visualisasi satirnya memperlihatkan bagaimana perangkat gawai ini jadi benda usang di museum London. Artinya, jika benda-benda yang kita pegang sekarang ini menjadi tidak berarti jika perang memang benar-benar terjadi. Apalagi, jika perang tersebut membawa kehancuran bagi bumi.  Lalu, bagiamana dengan jalan cerita film Mortal Engines sendiri?

Jalan Cerita Mortal Engines

Tidak seperti film yang diadaptasi dari novel lainnya, Mortal Engines sedikit lebih baik. Penyampaian ceritanya tidak terburu-buru atau asal jadi. Secara tepat film ini mampu menggambarkan setiap momen-momen penting dari karakter-karakter utama film. Bahkan bisa dikatakan penyampaian cerita melalui buku, mampu dirangkum dengan tepat melalui filmnya.

Bahkan ketika film ini menyajikan cerita dengan alur maju-mundur, Mortal Engines masih bisa memberikan kepuasan kepada penontonnya. Menunggu kejutan-kejutan yang sudah disiapkan dari pertengahan hingga akhir film. Ada beberapa twist yang ditampilkan, sayangnya tidak menampilkan adegan permainan Qiu Qiu Online dan dimaksimalkan dengan baik oleh para pemerannya.

Meskipun Hera Hilmar yang berperan sebagai Hester Shaw jadi pionir di dalam film ini, namun ia terlihat tampil biasa saja. Hanya Hugo Weaving yang sudah dikenal sebagai pemeran antagonis di trilogi Matrix atau Red Skull di film Captain America: The First Avenger yang tampil dengan baik di film ini.

Masih ada nama Jihae yang berperan sebagai Anna Fang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun, kesempatan wanita dari Korea Selatan ini tidak terlalu besar di sepanjang film. Sisanya, terlalu banyak karakter yang dimunculkan membuat beberapa plot film menjadi terasa tidak nyaman untuk ditonton.

Satu lagi, film ini akan sangat kental dengan aksen British. Hampir setiap dialognya tampil “gagah” dan terkesan “arogan” seperti halnya aksen orang-orang Inggris lainnya. Secara keseluruhan, Mortal Engines mampu menawarkan satu perspektif yang berbeda tentang kehidupan di masa depan. Peter Jackson dan seluruh tim kreatif yang dibalik layar kompak memainkan fantasi penonton dengan gaya kehidupan manusia di masa kehancuran bumi.

Review Trailer Mortal Engines

 

Review Film Insidious The Last Key

Review Film Insidious The Last Key

Review Film Insidious The Last Key ( 2018 )

RockAndRaaga. –  Saya tidak tahu yang manakah duluan: judul filmnya atau spesies hantunya. Akan tetapi Insidious: The Last Key memancing saya untuk berprasangka buruk jika judul itu adalah trick dari pembuat filmnya buat jaga-jaga, pastikan supaya kita tidak lupa. Saat kelak mengulas filmnya, pemirsa automatis akan merujuk pada “itu lhoo, yang ada Hantu Kunci-nya”. Mudah diingat kan? “Last (((Key)))” — Hantu (((Kunci))). Mereka mengetahui kita akan melupakan film ini, jadi mereka menyiapkan kode pengingat.

Bicara masalah Hantu Kunci, seakan-akan namanya belumlah cukuplah konyol, penampakannya ikut tidak kalah menggelikan. Hantu Kunci miliki jemari yang berupa kunci. Manfaat kunci itu adalah untuk buka beberapa puluh jeruji besi di “The Further”, semesta paralel astral yang di Indonesia ekuivalen dengan arti “Alam Gaib”. Akan tetapi kuncinya dapat juga digunakan untuk meneror. Jadi kunci itu akan dimasukkan ke leher atau dada manusia (janganlah menanyakan), cetekk!, lantas, uhm bagaimana yaa ngomongnya, akan berlangsung suatu. Semacam itu. Kayanya sich.

Sama dengan franchise-nya yang tidak kunjung mati, demikian juga dengan Elise Rainier (Lin Shaye), paranormal spesialis Insidious yang telah meninggal di film pertama. Penulis skrip Leigh Whannell tentu menyesal lakukan hal itu sebab Elise jadi apakah yang pemirsa senang dari Insidious. Whannell membangkitkannya kembali di film ke-3 yang bercerita masalah lama Elise. The Last Key lengkapi dengan menggali origin story Elise sekaligus juga mengantar kita berjumpa pada keluarga Dalton di film pertama. Secara singkat: film ini adalah sekuel dari film prekuel sekaligus juga prekuel dari film pertamanya.

Film dibuka pada tahun 1950an, ketika Elise kecil (Ava Kolker) tinggal di rumah yang berada tepat di sebelah komplek lembaga pemasyarakatan dan, tentu saja, berhantu. Elise melihatnya sendiri. Adiknya, Christian (Pierce Pope) terang saja takut melihat kakaknya yang menggumamkan hal-hal mistis. Ibunya (Tessa Ferrer) menganggap Elise istimewa dan ini adalah bakatnya. Sayangnya sang ayah (Josh Stewart) tak percaya pada hal-hal seperti ini. Ketika Elise bilang melihat ia melihat hantu, ayah akan langsung memukul Elise sejadi-jadinya dan mengurungnya di basement.

Disinilah terjadi hal yang tak diinginkan, dimana Elise tak sengaja membuka pintu merah yang misterius.

Singkat cerita, Elise kabur dari rumah. Bukan karena melihat setan yang superseram, melainkan karena tak tahan dengan perlakuan abusif ayahnya. Kita kemudian kembali ke tahun 2010, saat Elise (Shaye) sudah menjadi paranormal sukses. Suatu hari, ia mendapat permintaan untuk mengusir setan dari sebuah rumah. Dan rumah tersebut ternyata adalah rumahnya saat kecil dulu!

Tentu saja, Elise akan didampingi oleh dua asistennya, Specs (Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) yang kompetensinya soal hal paranormal setara dengan kru Mistery Machine-nya Scooby-Doo. Horornya adalah kedua orang ini akan melontarkan banyak lelucon aneh yang saking garingnya, saya berharap ada penonton yang memainkan suara jangkrik setiap kali mereka mencoba ngelawak.

Ketika sesuatu yang supranatural terjadi, kita tak perlu bingung walau sedang Instagram-an di bioskop. Karakter kita akan menjelaskannya dengan cara ngomong sama diri sendiri atau orang lain, padahal mereka sudah tahu. Seolah-olah Whannell, yang masih setia menulis skrip, khawatir kita tak mengerti apa yang sedang terjadi di layar. Mendengar mereka melakukan ini dengan sangat sering sekali jelas membuat saya gerah.

Sutradara Adam Robitel sepertinya terjegal di rating “PG-13/13+” yang berarti harus lebih ramah daripada The Conjuring yang berating “R/Dewasa”. Namun ia juga keliru. Melama-lamakan adegan bukan berarti membangun suspens, itu namanya bertele-tele. Meski begitu, ada satu adegan horor yang cukup cerdik, yaitu saat Elise masuk gorong-gorong untuk membuka koper-koper misterius. Kita tahu kita akan diberi jump-scare, tapi tidak lewat cara yang kita duga.

Kalau mau jujur, ada juga sih bagian yang menarik. Plotnya sendiri sebenarnya lumayan segar. Ia menyentuh tragedi keluarga. Lagipula, sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya masih bingung bagaimana mekanisme paranormal melihat hantu. Kapan mereka yakin kalau yang mereka lihat adalah hantu? Yang tampangnya awut-awutan tak selalu hantu kan? Film ini menggunakannya dengan cerdik untuk sebuah twist, meski kalau dipikir-pikir, secara motivasi karakter, ini tak nyambung dengan peristiwa di awal film.

“The Further” adalah salah satu kreasi film horor yang menarik. Dalam The Last Key, dengan semakin berjalannya cerita, mitologi soal “The Further” makin membingungkan. Saya kira wajar bila sebagian penonton siap melambaikan tangan, menyerah mencerna plot. Film ini berisi banyak potongan yang tak jelas bagaimana hubungannya dengan bagian lain. Tahu-tahu di akhir film kita sudah ada di “The Further”. Saya tak bisa memastikan bahwa ini adalah film Insidious terburuk, tapi saya bisa bilang bahwa ini adalah film Insidious paling tak seru yang saya tonton.

Review Trailer Insidious “The Last Key”

 

Review Film Den of Thieves ( 2018 )

Den of Thieves ( 2018 )

Review Film Den of Thieves ( 2018 )

RockAndRaaga. – Den of Thieves dibuka dengan statistik yang mencengangkan: di Los Angeles, perampokan bank berlangsung tiap-tiap 48 menit. Artinya, belumlah selesai satu episode satu bank sudah dirampok di Los Angeles. Ini membuat kota itu dijuluki pusat perampokan bank di seluruh dunia. Kita lalu dibawa untuk lihat satu sekuens perampokan yang digarap dengan begitu bagus, saya sampai tidak mengerti jika yang dirampok bukan bank, tetapi truk yang tengah nongkrong di warung donat. Nah lho. Kurang lebih berapakah angka perampokan warung donat tiap-tiap satu episode

Menyaksikan sekuens ini, kami menduga jika kami akan melihat satu film heist-thriller yang akan mengagetkan kami karena kami tidak menduga akan melihat film yang bagus. Tembak-tembakannya meyakinkan, camera berjalan dengan enerjik, disertai musik latar synthesizer yang dibuat untuk bikin kita berdebar-debar. Nyatanya filmnya tidak bagus-bagus sangat, tetapi masih membuat saya cukup terperanjat sebab dia lebih baik dari yang saya duga. Plot twist-nya bisa juga.

Dari tehnik mereka merampok, jelas beberapa kriminil bertopeng ini adalah profesional yang kemungkinan sempat ikut serta dalam operasi militer. Pemimpinnya ialah Merrimen (Pablo Screiber), eks marinir yang banting setir jadi perampok. Beberapa kru salah satunya Bosco (Evan Jones), Levi (50 Cent), serta Donnie (O’Shea Jackson Jr.). Banyak korban berjatuhan, tetapi yang mereka temukan hanya truk kosong punya bank.

Kita berhadapan sama ‘hewan’ yang tak biasa, bro,” ujar Nick (Gerard Butler) kepada rekan-rekannya, anggota kepolisian Los Angeles, sembari mengunyah donat yang dipungutnya dari TKP. Iya, yang tergeletak di parkiran. Unit yang dipimpin Nick adalah unit khusus yang krunya sepertinya dipersyaratkan punya tato, bertingkah slenge’an, dan berani menghajar calon tersangka. Tanpa pengawasan pula. Mereka adalah preman berseragam, meski lebih sering tak berseragam saat bertugas. Uhm, anda tahu maksud saya.

Jeniusnya, dari kondisi TKP, Nick bisa langsung menyimpulkan bahwa pelakunya adalah kru Merrimen. Yang patut diketahui adalah Nick kenal dengan Merrimen dan Merrimen kenal dengan Nick. Mereka agaknya merupakan rival di masa lalu, dan karena profesi yang saling bertolak belakang, jadi musuhan di masa sekarang. Nick tahu apa yang sudah dilakukan Merrimen, tapi tak bisa menangkapnya karena sadar bahwa ia tak punya bukti kuat.

Atau begitulah alasan agar filmnya bisa dilama-lamakan menjadi hampir dua setengah jam. Dua-setengah-jam. Film rampok-rampokan mana pula yang sepanjang itu kalau bukan film Michael Mann? Khususnya yang berjudul Heat? Namun film ini bukan buatan Mann, melainkan sutradara debutan Christian Gudegast. Meski demikian, Gudegast jelas mengacu kepada Heat, bukan sekedar gaya sinematisnya, bahkan hingga garis besar plot dan dinamika karakter.

Butler dan Schreiber dibuat mirip dengan Al Pacino dan Robert De Niro-nya Heat, yang di permukaan memang musuhan, tapi sebenarnya intim. Bedanya, Nick dan Merrimen ini merasa lebih macho dan bersaing untuk memparadekan kemachoan mereka. Ada adegan yang menarik di pertengahan film; Nick dan Merrimen saling unjuk kebolehan mereka di arena tembak. Tanpa berkata-kata, Nick kemudian sepertinya terkagum dengan akurasi Merrimen. Jangan pikirkan soal plausibilitas adegan, karena nanti kita akan disuguhkan dengan Nick yang terbangun di hadapan Merrimen setelah malamnya “main” dengan seorang pekerja seks komersil setelah slesai bermain Domino Qiu disebuah Bar Casino Los Angeles .

Namun ini tidak berhasil karena tak punya kedalaman. Keduanya adalah karakter satu dimensi. Adegan puncak, dimana keduanya harus tembak-tembakan secara personal, terkesan canggung. Dramanya simply tidak bekerja. Usaha untuk menjadikan mereka personal, seperti Nick yang diceritakan dalam proses cerai dengan sang istri, terasa tidak pada tempatnya karena tak nyambung dengan bagian rampok-rampokan panjang yang menyusul setelahnya.

Rampok-rampokannya menjadi tidak simpel karena melibatkan main kucing-kucingan. Nick menyekap Donnie yang merupakan sopirnya Merrimen, lalu menginterogasinya. Tak banyak yang bisa ia dapatkan, jadi Nick melepaskan Donnie untuk menjadi informan, selagi menunggu pergerakan selanjutnya dari Merrimen. Rencana besar Merrimen adalah merampok bank Federal Reserve. Merampok bank biasa berisiko karena setiap uang punya nomor seri yang bisa dilacak. Nah, merampok bank Federal Reserve lebih aman, karena di setiap periode tertentu, bank ini akan menghapus nomor seri sebelum uang yang cacat dimusnahkan. Target mereka adalah mengambil uang tersebut tepat setelah nomor serinya dihapus tapi sebelum dimusnahkan. Bro, rencana mereka sungguh matang.

Kendati ini adalah pertama kalinya bagi Gudegast mengontrol langsung di belakang kamera, ia percaya diri ketika menggarap adegan aksi. Sekuens aksinya menegangkan, enerjik, dan berisik. Ia tahu cara menggerakkan dan menempatkan kamera terutama saat adegan puncak yang melibatkan tembak-tembakan di jalan raya yang macet.

Saya pikir film ini berisi terlalu banyak hal. Durasi 140 menitan jelas kepanjangan dan filmnya terseok gara-gara bagian pertengahan yang draggyDen of Thieves agaknya bisa menjadi film yang lebih mencekat seandainya dibuat lebih padat. Namun, film ini membuat saya setuju dengan pernyataan bahwa tak ada film yang buruk saat film itu bisa membuat Gerard Butler terlihat bermain baik. Ia lumayan bagus disini, sebagian besar karena ia tak perlu menampilkan sesuatu kecuali kemachoan

Review Film Bleach ( 2018 )

Review Film Bleach ( 2018 )

RockAndRaaga. – Mendengar adaptasi shonen yang ditangani dengan benar, sebagian anda mungkin langsung menyodorkan live-action Rurouni Kenshin alias Samurai X. Iya, film itu (terpenting yang pertama) masih adalah penyesuaian shonen terunggul selama ini. Akan tetapi dia unggul sebab handicap; komponen Rurouni Kenshin lebih dekat dengan dunia riil, sesaat Bleach begitu fantasi. Dia mengulas tentang monster bernama Hollow, pasukan penghilang Hollow berjuluk Shinigami, semesta fiktif bernama Soul Society, serta pedang super bernama Zanpakuto. Yaah, beberapa hal WTF standard manga/anime laah.

Jadi adalah satu perolehan waktu sutradara Shinsuke Sato dapat membuat semua komponen itu kerja. Sato tahu apakah yang tengah dia kerjakan, mungkin karena pengalamannya yang sebelumnya telah 4 kali mengusung manga ke live-action, dari mulai The Princess Blade, I am Hero, sampai yang sangat nyeleneh, Gantz serta Inuyashiki. Menjadi orang kurang pergaulan yang membaca semua manga Bleach, saya dapat mengkonfirmasi jika tidak ada komponen ciri khas Bleach yang dibiarkan di film live-action ini.

Adegan aksinya relatif setia dengan versi manga/anime. Yap, bahkan sabetan pedang yang gesit dan gerakan tubuh yang cepat sebagaimana lazimnya efek spesial di manga/anime shonen terlihat cukup meyakinkan. Shinsuke Sato dengan bijak menggunakan permainan kamera dan pemilihan angle untuk menutupi efek komputer yang memang belum semewah Hollywood, tapi tetap sukses menghadirkan intensitas pertarungan ala anime.

Secara teori, memang pada dasarnya manga/anime itu terbilang hampir mustahil untuk diadaptasi, khususnya karena fitrahnya yang episodik. Anda tahu, manga Bleach berjumlah 74 volume, sedangkan animenya mencapai 366 episode. Gimana bisa muat tuh semua dalam satu film? Untungnya film ini tak berusaha memasukkan sebanyak mungkin elemen, alih-alih justru menyederhanakan cerita dengan memilih satu tema utama. Ia berfokus pada perjalanan dari karakter utama kita, Ichigo Kurosaki (Sota Fukushi) untuk menjadi seorang Shinigami. Bagi yang belum tahu Shinigami, please bear with me here. Ini mau saya jelasin.

Ichigo adalah seorang anak SMA berandal biasa yang menjalani hidup yang relatif biasa saja bersama ayah dan dua adiknya. Namun ia punya kelebihan, yaitu bisa melihat arwah. Kelebihan ini naasnya malah berujung pada kematian sang ibu saat Ichigo masih kecil dulu, sesuatu yang masih menjadi penyesalan bagi Ichigo hingga saat ini. Suatu hari, Ichigo tiba-tiba melihat seorang samurai berbaju hitam yang sedang bertarung melawan monster raksasa. Samurai tersebut adalah Shinigami bernama Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki), sedangkan si monster disebut dengan Hollow. Tugas Shinigami adalah membimbing Hollow yang sebetulnya adalah arwah manusia yang masih mendendam agar menyeberang ke dunia arwah dan tak mengganggu dunia manusia lagi. Caranya, yaa tentu saja memutilasi mereka dengan pedang dong biar seru.

Namun satu dan lain hal membuat Rukia kehilangan kekuatannya di tengah pertempuran. Satu-satunya solusi adalah dengan mentransfer kekuatannya kepada Ichigo. Ichigo awalnya ragu, tapi toh mau juga ntar, dan sekarang ia jadi punya pedang raksasa. Masalahnya, Rukia sekarang bukan lagi seorang Shinigami sehingga tak bisa kembali ke kampungnya di Soul Society. Jadi, Rukia memilih untuk tinggal di dunia manusia demi melatih Ichigo menjadi Shinigami sungguhan.

Mitologi Bleach menjadi kian kompleks, karena nanti bakal ada beberapa Shinigami lain yang datang untuk menjemput Rukia, serta kehadiran klan saingan Shinigami yang berjuluk Quincy. Namun penonton kasual agaknya tak perlu khawatir, sebab mekanisme semesta Bleach dijelaskan dengan simpel disini. Biasanya, ada sensasi ganjil yang kerap kita dapatkan saat menonton adaptasi live-action dari sebuah anime, yaitu sensasi keterasingan konsep dari dunia nyata; mari kita sebut “anime-jetlag”. Namun, film Bleach sedikit meredam “anime-jetlag” ini bagi penonton; tak ada lelucon fisik khas anime, tak ada teriakan power-up lebay khas anime, bahkan karakterisasinya dibuat lebih dekat dengan dunia nyata (rambut Ichigo tak se-oranye anime; turut berduka buat Orihime-lovers *uhuk*). Saya cukup yakin ini berkat keterlibatan langsung sang kreator BleachTite Kubo yang terjun langsung dalam proses produksi.

Kalau memang begitu, saya harap nanti semua adaptasi anime/manga mau untuk menggandeng kreator orisinalnya. Mereka tentu lebih tahu aspek mana yang bakal bekerja untuk film mereka, dengan harapan penonton akan mendapatkan adaptasi yang layak. Bleach menjadi sedikit live-action yang saya nantikan kelanjutannya, meski film ini sebetulnya ditutup dengan baik dan tak berusaha keras mengisyaratkan sekuel. Ia juga membuat saya percaya bahwa mengadaptasi shonen fantasi bukannya tidak mungkin dilakukan. Barangkali live-action Naruto bukanlah ide yang buruk.